Berita

Anak Bangsa Ciptakan Inovasi Alat Penangkapan Ikan Ramah Lingkungan

Oleh: Wahyu Teguh Prawira / WWF-Indonesia
 
Pada tanggal 31 Juli 2015 lalu, dewan juri Kompetisi Alat Penangkap Ikan Ramah Lingkungan tahun 2015 memutuskan  Galih Dandung Akbar, Romi Dwi Nanda, dan Muhamad Ali Dofir sebagai Juara 1 pada kegiatan Kompetisi Alat Penangkap Ikan Ramah Lingkungan tahun 2015.
 
 
Ketiga mahasiswa Universitas Brawijaya ini membuat inovasi alat penangkap ikan ramah lingkungan yang bernama“Electro Shield System: Pemertahanan Populasi Hiu (Carcharhinus leucas) dengan Mengoptimalisasi Peran Alat Tangkap Berkelanjutan Untuk Menurunkan Bycatch Di Perairan Indonesia”. Alat ini berfungsi untuk mengoptimalkan peran alat penangkap ikan dengan menambahkan perangkat elektronik sebagai sarana untuk menghalau hiu pada aktivitas penangkapan ikan.
 
Kegiatan dengan tema “Inovasi Alat Penangkap Ikan (API) untuk Perikanan Berkelanjutan” ini merupakan pertama kalinya diselenggarakan di Indonesia. Kegiatan ini diselenggarakan bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang terinspirasi dari International Smart Gear Competition.  Sebagai salah satu solusi dalam permasalahan penangkapan ikan yang ada, kompetisi ini memberikan kesempatan kepada akademisi, praktisi dan publik untuk berkontribusi dalam pembuatan inovasi API yang ramah lingkungan. 
 
Langkah selanjutnya dari kompetisi ini adalah bersama pemenang (Juara 1, 2, dan 3), KKP dan WWF-Indonesia akan menggandeng beberapa pihak dalam melakukan penelitian lanjutannya dan uji terapan dilapangan. Diharapkan inovasi tersebut dapat menjadi solusi yang aplikatif dalam menurunkan tangkapan sampingan (bycatch) terhadap biota laut yang dilindungi dan terancam punah. (Baca juga: KKP dan WWF Gelar Kompetisi Alat Penangkapan Ikan yang Ramah Lingkungan)
 
Setidaknya terdapat 3 tahapan seleksi yang telah digawangi oleh 9 dewan juri yang berasal dari kalangan Akademisi, Instansi Pemerintah, dan LSM bidang Kelautan dan Perikanan. Dalam penilaian tahap pertama, dari 95 abstrak yang diterima, hanya 22 abstrak yang dinyatakan lolos dan maju dengan proposal penelitian untuk dipresentasikan langsung kepada dewan juri. Electro Shield System karya mahasiswa Brawijaya dinobatkan sebagai karya inovasi terbaik karena memenuhi empat kriteria penilaian, yaitu 1) Kontribusi terhadap penghematan BBM (efisien dalam penggunaan BBM); 2) Tingkat selektifitas terhadap ukuran target spesies; 3) Kontribusi terhadap  mengurangi tertangkapnya by-catch; 4) Dampak negatif terhadap lingkungan/habitat perairan; 5) Resiko Bahaya.
 
Juara 2 diberikan kepada Adefryan Kharisma Y, dari Balai Karantina Ikan Tanjung Pandan dengan judul inovasi “Modifikasi Rawai Dasar Dengan Penggunaan Mata Pancing Magnet Permanen Untuk Mengurangi Hasil Tangkapan Sampingan Hiu.”  Juara 3 diberikan kepada tim Dian Pranoto dan Arqi Eka Pradana dari Universitas Brawijaya dengan judul inovasi “A-Tool (Audiosonic Tool), Application Technology of Audiosonic due to Reduce Bycatch.”  Juara Harapan 1 diberikan kepada Bagus Prasetio dari Universitas Diponegoro dengan judul inovasi “Perancangan Smart Portable Liftnet dengan Self-Electrical Source sebagai Solusi Alat Tangkap Ikan yang Ramah Lingkungan”.  Terakhir, Juara Harapan 2 diberikan kepada Ahmad Hadi Prayogo dari BPPI Semarang dengan judul inovasi “Uji Coba Lacuda V.2 (Lampu Celup Dalam Air) Berselongsong Karet”. 
 
“Meskipun tidak menang saya cukup bangga sekaligus bingung, karena ini merupakan sebuah kehormatan bagi kami anak nelayan dari pulau yang cukup jauh dapat berpartisipasi dan lolos penilaian tahap 1 dalam kegiatan ini,” ujar Idruss Badia sebagai salah satu peserta kompetisi. Idruss yang merupakan seorang nelayan yang juga berprofesi sebagai Mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Pulau Buru – Ambon dan 35 peserta lainnya cukup bangga dalam berkontribusi dalam event yang baru pertama kali diadakan di Indonesia ini.
 
Sebagai bentuk dukungan dan upaya dalam mewujudkan praktek penangkapan ikan secara bertanggung jawab sesuai dengan Permen No 2/PERMEN-KP/2015 mengenai larangan beberapa alat penangkap ikan yang tidak ramah lingkungan. Peraturan ini menuntut adanya pergantian alat tangkap tidak ramah lingkungan dengan alat penangkap ikan (API) yang ramah lingkungan dan inovasi alat tangkap baru atau pengembangan API yang sehingga lebih ramah lingkungan. Kegiatan dengan tema “Inovasi Alat Penangkap Ikan (API) untuk Perikanan Berkelanjutan” ini merupakan salah satu solusi dalam permasalahan yang ada. Memberikan kesempatan kepada akademisi, praktisi dan publik untuk berkontribusi dalam pembuatan inovasi API ini sangat disambut baik.
Tidak ada komentar
Isi Komentar
 isi 8 digit karakter di sebelah kiri
Pilih bahasa :    

Kumpulan Penelitian EAFM Indonesia

Silakan berpartisipasi dalam EAFM Indonesia dengan memasukkan data dan tulisan Anda.
Kirimkan ke: eafm.id@gmail.com

Panjang pertama kali matang gonad (Lm) beberapa jenis ikan

  • Banyar (2013) : 18,03 FL

  • Barakuda (2013) : F:66.0 FL/ M:60.0 FL

  • Baronang (2013) : 24 cm

  • Bawal Hitam (2013) : 22-24 cm

  • Bawal Putih (2013) : 18 cm

  • Belanak (2013) : 24-26 cm

  • Butana (2013) : 18.0 FL

  • Cakalang (2013) : 40-41.9 cm

  • Gerotgerot (2013) : 40.0 cm

  • Kakap Merah (2013) : 42.9 FL

  • Kakap Putih (2013) : 29-60 cm

  • Kambing kambing (2013) : 14.0 TL

  • Kembung (2013) : 16,89 FL

  • Kepiting Bakau (2013) : 9-10 up CL/301-400 gr

  • Kerang Dara (2013) : M : 2.720-2.950 cm/ F:2.230-3.050 cm

  • Kerapu (2013) : 39 cm

  • Kuniran (2013) : F:13.6-14.3/ M:14.4-15.1 cm

  • Kurau (2013) : F:28.5-29 cm/ M:22.5-24.3 cm

  • Kurisi (2013) : F:15-18 cm

  • Kuwe (2013) : 42.0 SL

  • Layang (2013) : 16,21 FL

  • Layang Deles (2013) : Jantan : 19,6-20,1
    Betina : 19,8-20,3

  • Layaran (2013) : 156-250 cm

  • Lemuru (2013) : 15.0 cm
    Betina: 9,9 (TL)

  • Lencam (2013) : 45.3 cm

  • Mahi-mahi (2013) : 65 cm

  • Mata Tujuh (2013) : M:3.51-4.0/ F:4.01-4.5 cm

  • Pari (2013) : M:59.9-69.1 /F:59.9-69.1 cm

  • Pari Manta (2013) : 380-460 cm

  • Peperek (2013) : 13.0 SL

  • Rajungan (2013) : 7-9 cm (CL)

  • Selar Bentong (2013) : 20,80 FL

  • Selar Kuning (2013) : J: 13,9-14,2
    B: 13,5-13,8 (TL)

  • Slanget (2013) : Jantan : 13,9-14,6
    Betina : 13,1-13,8 (TL)

  • Tembang (2013) : 11,95 FL

  • Tenggiri (2013) : 40-45 cm

  • Teri Jengki (2013) : 6 cm

  • Teripang (2013) : 16 cm,184 gr

  • Tongkol (2013) : 35 cm

  • Tongkol Komo (2013) : 40-65 cm

  • Tongkol Krai (2013) : 29-30 cm

  • Tuna Albakor (2013) : 107.5 cm

  • Tuna Mata Besar (2013) : Jantan : 140,5-151,9
    Betina : 133,5-137,9(FL)

  • Tuna Sirip Biru (2013) : 140 cm

  • Tuna Sirip Kuning (2013) : 137,50 (FL)

KEPMEN KP NOMOR 50 TAHUN 2017 TENTANG ESTIMASI POTENSI, JTB, DAN TINGKAT PEMANFAATAN SUMBER DAYA IKAN DI WPP NRI
Over Exploited Fully Exploited Moderate
Jenis Ikan Potensi (Ton)
& Status Stok
JTB
Nasional 12.541.437 10.033.147

Pengunjung

Group Mailing List EAFM Indonesia

Komentar Pengunjung

  • alwi PPs STP jakarta pada Network Dalam Pengembangan EAFM di Indonesia

    sustainability dapat di realisasikan jika kesadaran sosial ekonomi dan lingkungan dapat sinergis dan berperan akan tetapi tantangan dari ketiga hal tersebut masih cukup sulit di aplikasikan

  • Pak Supardin pada Profil Perikanan Indonesia

    apakah profilnya bisa lebih dilengkapi lagi? tks

  • DANANJAYA pada Peluncuran website EAFM-Indonesia

    cukup menarik informasinya, mungkin perlu yang lebih ilmiah pemaparannya dan melalui suatu kajian agar mendekati kebenarannya.

  • Imran AMin pada Network Dalam Pengembangan EAFM di Indonesia

    EAFM hanya bisa diimplementasikan jika pemerintah sudah bisa mengubah paradigma penentuan potensi lestari sumberdaya perikanan kita. Mengubah dari pendekatan nasional based ke satuan pengelolaan perikanan terkecil. potensi lestari per WPP pun masih sangat bias nantinya, karena kelembagaan pengelolaan WPP itu sendiri masih berfragmentasi antara pusat propinsi dan kabupaten. Dalam menentukan potensi lestari tersebut pun tidak lagi menggunakan pendekatan linier dan single species, tapi mulai memperhatikan factor-factor yang mempengaruhi keberadaan kelimpahan ikan. misalnya nilai potensi lestri kawasan Teluk Jakarta, atau kawasan-kawasan lain yang indikator ekosistemnya bias terukur. Tidak seperti saat ini, yang jadi acuan kita hanya potemsi letari nasional... Kalau paradigma dasar ini sudah dirubah, maka penerapan EAFM akan menjadi sangat mudah... tinggal menentukan effort maksimal yang diperbolehkan berdasarkan informasi perluasan specific di atas.

4 orang
48 orang
222 orang
1574 orang
Kunjungi kami juga di: