Berita

Forum Koordinasi Pengelolaan dan Pemanfaatan Sumber daya Ikan (FKPPS) Nasional

Forum Koordinasi Pengelolaan dan Pemanfaatan Sumber daya Ikan (FKPPS) Nasional, merupakan acara 2 tahunan yang dihadiri oleh seluruh kepala dinas perikanan di Indonesia dan kepala pelabuhan yang memiliki izin pusat dan lokasi kegiatannya selalu berpindah-pindah pelaksanaannya di Kota/ Kabupaten pesisir. Pada kesempatan kali ini, Ambon di dapuk menjadi Tuan rumah. Dilaksanakan selama 2 hari Pada 19-20 Maret 2014, FKPPS ini mengusung tema “Pengelolaan dan Pemanfaatan Sumber daya Ikan yang berkelanjutan melalui implementasi RPP dan EAFM” dan dibuka sendiri oleh Direktur Jenderal Perikanan Tangkap serta Perwakilan Gubernur Maluku. Selain yang tersebut sebelumnya, acara ini juga menghadirkan perwakilan Peneliti, Universitas, Asosiasi dan pengusaha, juga NGO yang bergerak di isu perikanan di Indonesia.

pada pertemuan tersebut, presentasi diawali oleh DIrektur Sumber daya Ikan tentang rencana pengelolaan perikanan dan bagaimana FKPPS digunakan untuk memperbaiki pengelolaan perikanan di Indonesia. Presentasi di lanjutkan oleh Direktorat Pelayanan Usaha Penangkapan Ikan (PUPI) yang bercerita mengenai alokasi izin armada dan procedural pengajuan izin dari armada baru atau yang bersifat perpanjangan. Sebelum istirahat, agenda dilanjutkan dengan pemaparan dari Kepala Komisi Nasional Pengkajian Komisi Nasional Pengkajian Stok Ikan (Komnaskajiskan) yang memperkenalkan Status Stok dan Potensi Sumber Daya Ikan 2013 yang rencananya akan didorongkan kepada Menteri Kelautan dan Perikanan untuk menjadi revisi PerMen 45/ 2011, yang berbicara mengenai stok dan potensi perikanan di Indonesia dan dilanjutkan oleh peneliti dari Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumber daya Ikan (P4KSI) dengan topik yang sama, namun dengan ditilik dari sudut pandang ilmiah. Melanjutkan sisa agenda yang dijadwalkan, selepas makan siang peserta FKPPS kembali dilanjutkan. Materi EAFM untuk perbaikan perikanan menjadi pembuka sesi siang itu, yang disampaikan oleh Kepala Pusat Kajian Sumber daya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB yang hadir dan berbicara mewakili National Working Group (NWG). Selanjutnya, disusul oleh presentasi dari masing-masing Subdirektorat di SDI yang berbagi mengenai isu dan tantangan prioritas dari masing-masing bagian. Subdirektorat Sumber daya Ikan Laut Teritorial dan Perairan Kepulauan berbagi mengenai akan adanya rencana pengelolaan nelayan andon yang selama ini menjadi masalah di setiap masing-masing daerah potensi Sumber daya Ikan. Diteruskan oleh Subdirektorat Sumber Daya Ikan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia dan Laut yang bercerita mengenai usaha pemenuhan Resolusi IOTC (Indian Ocean Tuna Commission) dan CMM (Conservation Management Measures) WCPFC (Western and Central Pacific Fisheries Commission) untuk perikanan tuna, juga mengenai pengelolaan rumpon yang hingga saat ini belum memiliki dasar hukum hingga saat ini. Untuk penutup kegiatan hari pertama, Subdirektorat Evaluasi Pengelolaan Sumber daya Ikan berbagi mengenai pemantau independen diatas kapal (Observer).

Download Materi Presentasi FKPPS Nasional

Hari kedua, peserta dibagi berdasarkan regional (Regional 1 (WPP 571, 572, 573); Regional 2 (WPP 711, 712); Regional 3 (WPP 713, 714, 715, 718); Regional 4 (WPP 716, 717) lalu kemudian bersama-sama duduk dalam kelompok kecil berdiskusi untuk menyusun Rencana Aksi Nasional di setiap RPP. Tim penilai EAFM dan perwakilan PKSPL yang hadir pada kegiatan ini sendiri tersebar disetiap masing-masing grup regional tersebut. Setiap perwakilan yang hadir dari masing-masing Kota/ Kabupaten diajak untuk bertukar pikiran dan berdiskusi mengenai penentuan isu-isu prioritas yang menjadi target kerja yang kemudian diakomodir untuk masuk kedalam RAN yang disusun per masing-masing WPP. Tim penilai EAFM sendiri hadir di masing-masing regional dan memberikan masukan terkait isu-isu pengelolaan perikanan terutama yang terkait dengan indikator EAFM. Hasil masing-masing grup kecil tersebut kemudian diplenokan dan kemudian disusun menjadi rumusan hasil kegiatan FKPPS 2014. Jika bersama-sama kita lihat dalam berkas rumusan FKPPS nasional yang ada, maka dimandatkan kepada regional untuk menyusun RPP-nya sendiri dengan menggunakan EAFM. Hal ini nanti akan mendapatkan dukungan terkait adanya rencana untuk menerbitkan Surat Keputusan Direktorat Jenderal (SK Dirjen) terkait penerapan EAFM untuk pengelolaan perikanan di daerah.

Download Rumusan Hasil Pertemuan FKPPS Nasional

Tidak ada komentar
Isi Komentar
 isi 8 digit karakter di sebelah kiri
Pilih bahasa :    

Kumpulan Penelitian EAFM Indonesia

Silakan berpartisipasi dalam EAFM Indonesia dengan memasukkan data dan tulisan Anda.
Kirimkan ke: eafm.id@gmail.com

Panjang pertama kali matang gonad (Lm) beberapa jenis ikan

  • Banyar (2013) : 18,03 FL

  • Barakuda (2013) : F:66.0 FL/ M:60.0 FL

  • Baronang (2013) : 24 cm

  • Bawal Hitam (2013) : 22-24 cm

  • Bawal Putih (2013) : 18 cm

  • Belanak (2013) : 24-26 cm

  • Butana (2013) : 18.0 FL

  • Cakalang (2013) : 40-41.9 cm

  • Gerotgerot (2013) : 40.0 cm

  • Kakap Merah (2013) : 42.9 FL

  • Kakap Putih (2013) : 29-60 cm

  • Kambing kambing (2013) : 14.0 TL

  • Kembung (2013) : 16,89 FL

  • Kepiting Bakau (2013) : 9-10 up CL/301-400 gr

  • Kerang Dara (2013) : M : 2.720-2.950 cm/ F:2.230-3.050 cm

  • Kerapu (2013) : 39 cm

  • Kuniran (2013) : F:13.6-14.3/ M:14.4-15.1 cm

  • Kurau (2013) : F:28.5-29 cm/ M:22.5-24.3 cm

  • Kurisi (2013) : F:15-18 cm

  • Kuwe (2013) : 42.0 SL

  • Layang (2013) : 16,21 FL

  • Layang Deles (2013) : Jantan : 19,6-20,1
    Betina : 19,8-20,3

  • Layaran (2013) : 156-250 cm

  • Lemuru (2013) : 15.0 cm
    Betina: 9,9 (TL)

  • Lencam (2013) : 45.3 cm

  • Mahi-mahi (2013) : 65 cm

  • Mata Tujuh (2013) : M:3.51-4.0/ F:4.01-4.5 cm

  • Pari (2013) : M:59.9-69.1 /F:59.9-69.1 cm

  • Pari Manta (2013) : 380-460 cm

  • Peperek (2013) : 13.0 SL

  • Rajungan (2013) : 7-9 cm (CL)

  • Selar Bentong (2013) : 20,80 FL

  • Selar Kuning (2013) : J: 13,9-14,2
    B: 13,5-13,8 (TL)

  • Slanget (2013) : Jantan : 13,9-14,6
    Betina : 13,1-13,8 (TL)

  • Tembang (2013) : 11,95 FL

  • Tenggiri (2013) : 40-45 cm

  • Teri Jengki (2013) : 6 cm

  • Teripang (2013) : 16 cm,184 gr

  • Tongkol (2013) : 35 cm

  • Tongkol Komo (2013) : 40-65 cm

  • Tongkol Krai (2013) : 29-30 cm

  • Tuna Albakor (2013) : 107.5 cm

  • Tuna Mata Besar (2013) : Jantan : 140,5-151,9
    Betina : 133,5-137,9(FL)

  • Tuna Sirip Biru (2013) : 140 cm

  • Tuna Sirip Kuning (2013) : 137,50 (FL)

Estimasi Potensi Sumberdaya Ikan Keputusan Menteri KP No. 50/KEPMEN-KP/2017

O

F

M

Over Exploited Fully Exploited Moderate
Tabel SDI WPP-571
Jenis Ikan Status Stok
UDANG O
DEMERSAL F
- Kurau O
- Manyung O
- Kurisi F
- Kuniran F
- Swanggi F
- Bloso F
- Gumalah F
- Kakap merah O(3)
- Pelagis kecil F
- Banyar O
- Kembung O
- D.macarellus F
- D.macrosoma F
- D.ruselli F
- Golok-golok M
Tuna Besar
- Cakalang M
Tabel SDI WPP-572
Jenis Ikan Status Stok
UDANG O
DEMERSAL F
- Layur M
- Kurisi F
- Kuniran F
- Swanggi F
- Bloso F
- Gumalah F
- Kakap merah O(4)
- Kerapu O(4)
PELAGIS KECIL O
- Banyar O
- Kembung O
Tuna Besar
- Cakalang M
- Madidihag F
- Mata besar O
Tabel SDI WPP-573
Jenis Ikan Status Stok
UDANG O
DEMERSAL M
- Layur M
- Kakap merah F(5)
- Kuwe F(5)
PELAGIS KECIL F
- D.kuroides M
- Lemuru O(6)
Tuna Besar
- Cakalang M
- Albakora F
- Madidihang F
- Mata besar O
- Sbt O
- Cumi-cumi M
Tabel SDI WPP-711
Jenis Ikan Status Stok
UDANG O
DEMERSAL F
- Kurau O
- Manyung F
PELAGIS KECIL O
- Banyar F
- Kembung F
- D.macrosoma F
- D.ruselli F
- Cumi-cumi M
Tabel SDI WPP-712
Jenis Ikan Status Stok
UDANG O
DEMERSAL F
- Kurisi M(1)
- Kuniran F
- Swanggi M(1)
- Bloso F
- Kakap merah O
- Kerapu O
PELAGIS KECIL O
- Banyar O
- Kembung O
- D.macrosoma O
- D.resulli O
Tabel SDI WPP-713
Jenis Ikan Status Stok
UDANG O
DEMERSAL O
- Kakap merah M(2)
- Kerapu M(2)
PELAGIS KECIL O
- Ikan terbang O
Tuna Besar
- Cakalang M
- Madidihang O
- Mata besar F
Tabel SDI WPP-714
Jenis Ikan Status Stok
DEMERSAL F
PELAGIS KECIL F
- D. macarellus M-F
- D.macrosoma M-F
Tuna Besar
- Cakalang M
- Madidihang F
- Mata besar O
- Cumi-cumi M
Tabel SDI WPP-715
Jenis Ikan Status Stok
UDANG O
DEMERSAL M
- Kakap merah F
- Kerapu F
PELAGIS KECIL F
- Ikan terbang F
- D.kuroides F
- D.macarellius M
Tuna Besar
- Cakalang M
- Madidihang F
- Mata besar O
Tabel SDI WPP-716
Jenis Ikan Status Stok
DEMERSAL M
- Manyung M
- Kakap merah M
- Kerapu M
- Kuwe M
PELAGIS KECIL M
- D.kuroides M
- D.macarellus M
Tuna Besar
- Cakalang M
- Madidihang F
- Mata besar O
Tabel SDI WPP-717
Jenis Ikan Status Stok
UDANG O
DEMERSAL M
PELAGIS KECIL M
Tuna Besar
- Cakalang M
- Madidihag O
- Mata besar O
Tabel SDI WPP-718
Jenis Ikan Status Stok
UDANG F
DEMERSAL O(*)
- Mayung O
- Kurisi O
- Kuniran O
- Swanggi O
- Bloso O
- Gumalah O
- Kakap merah O
- Ikan lidah F
- Palagis kecil M

Pengunjung

Group Mailing List EAFM Indonesia

Komentar Pengunjung

  • alwi PPs STP jakarta pada Network Dalam Pengembangan EAFM di Indonesia

    sustainability dapat di realisasikan jika kesadaran sosial ekonomi dan lingkungan dapat sinergis dan berperan akan tetapi tantangan dari ketiga hal tersebut masih cukup sulit di aplikasikan

  • Pak Supardin pada Profil Perikanan Indonesia

    apakah profilnya bisa lebih dilengkapi lagi? tks

  • DANANJAYA pada Peluncuran website EAFM-Indonesia

    cukup menarik informasinya, mungkin perlu yang lebih ilmiah pemaparannya dan melalui suatu kajian agar mendekati kebenarannya.

  • Imran AMin pada Network Dalam Pengembangan EAFM di Indonesia

    EAFM hanya bisa diimplementasikan jika pemerintah sudah bisa mengubah paradigma penentuan potensi lestari sumberdaya perikanan kita. Mengubah dari pendekatan nasional based ke satuan pengelolaan perikanan terkecil. potensi lestari per WPP pun masih sangat bias nantinya, karena kelembagaan pengelolaan WPP itu sendiri masih berfragmentasi antara pusat propinsi dan kabupaten. Dalam menentukan potensi lestari tersebut pun tidak lagi menggunakan pendekatan linier dan single species, tapi mulai memperhatikan factor-factor yang mempengaruhi keberadaan kelimpahan ikan. misalnya nilai potensi lestri kawasan Teluk Jakarta, atau kawasan-kawasan lain yang indikator ekosistemnya bias terukur. Tidak seperti saat ini, yang jadi acuan kita hanya potemsi letari nasional... Kalau paradigma dasar ini sudah dirubah, maka penerapan EAFM akan menjadi sangat mudah... tinggal menentukan effort maksimal yang diperbolehkan berdasarkan informasi perluasan specific di atas.

  • Agussalim pada UNPATTI Ambon
    EAFM sangat aplikabel dan sesuai tuntutan kondisi untuk perikanan berkelanjutan. Tim EAFM Indonesia patut dapat apresiasi. secara pribadi saya mengucapkan terimakasih kepada Bpk James Abrahamsz (koordinator EAFM Wilayah Maluku/ Dosen Pascasarjana Unpatti Ambon) atas kesediaannya menjadi pembimbing penelitian saya tentang EAFM. dan terimakasih kepada Kanda Muhammad Yusuf (WWF-Indonesia) atas support dan inspirasinya untuk fokus penelitian kepada EAFM. Terimakasih pula kepada Bapk Prof. Samsu Alam (Unhas) atas laporan tentang EAFM Ikan terbang (ternayata EAFM aplikatif pula untuk spesies tertentu). EAFM seharusnya menjadi roadmap pengelolaan perikanan, dan segenap praktisi, akademisi dan pengambil kebijakan perikanan harus menguasai ini.
6 orang
52 orang
157 orang
2455 orang
Kunjungi kami juga di: