Berita

Peluncuran website EAFM-Indonesia

Oleh:Chiquita Tri Rezki

Pada Kamis, 17 Oktober 2013 lalu dalam rapat perkembangan implementasi EAFM yang bertempat di Bogor telah diluncurkan situs web National Working Group (NWG) 2 tentang Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) www.eafm-indonesia.net , yang diresmikan oleh Kepala Sub Direktorat Laut Territorial dan Kepulauan, Direktorat Sumber Daya Ikan, Ibu Ir. Erni Widjajanti, M.Ag.Buss. Situs web ini merupakan penyempurnaan dari yang sudah ada sebelumnya dengan tampilan dan informasi yang telah diperbarui dan memiliki fungsi utama sebagai database pengelolaan sumber daya perikanan tangkap Indonesia.

Rapat perkembangan implementasi EAFM ini dibuka dengan pemaparan mengenai perkembangan pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem di Kabupaten Flores Timur dan Wakatobi, perkembangan kebijakan EAFM di tingkat nasional, dilanjutkan dengan pengisian matriks progres implementasi National Plan of Action Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, and Food Security (CTI – CFF) goal 2 Tahun 2010 – 2013, dan matriks usulan implementasi National Plan of Action CTI – CFF goal 2 Tahun 2014 – 2016.

Pemaparan pertama disampaikan oleh Ir. M.I. Erna Di Silva, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Flores Timur, mengenai perkembangan pengelolaan dengan pendekatan ekosistem. Ada beberapa hal yang menjadi ancaman keberlanjutan perikanan di Flores Timur, yaitu bergesernya pola penangkapan ikan dari tradisional ke arah praktik penangkapan yang merusak, seperti penggunaan bom dan potassium sianida, serta meningkatnya permintaan pasar akan produk perikanan di wilayah Indonesia timur. Praktik negatif ini sayangnya belum diimbangi dengan pendataan dari sisi sumber daya ikan, ekosistem, teknik penangkapan, sosial ekonomi, dan kelembagaan sebagai dasar pembuatan pengelolaan perikanan sehingga dapat berdampak semakin tidak terarahnya kebijakan yang berpotensi mengakibatkan deplesi sumber daya perikanan. Guna mengatasi permasalahan tersebut, DKP Kabupaten Flores Timur bekerja sama dengan WWF melaksanakan kegiatan survei data untuk penilaian performa pengelolaan perikanan dengan menggunakan indikator EAFM dan perikanan umpan untuk huhate, sebagai bahan penyusunan kebijakan (Peraturan Bupati) tentang perikanan yang berkelanjutan.

Pemaparan kedua mengenai perkembangan pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem di Kabupaten Wakatobi disampaikan oleh Bapak Radini dari DKP Wakatobi. Di Kabupaten Wakatobi ancaman – ancaman perikanan yang terjadi sedikit banyak sama dengan yang terjadi di Kabupaten Flores Timur. Bekerja sama dengan joint program WWF-TNC, Pemerintah Kabupaten Wakatobi sudah mengawali program – program lebih awal, dengan telah tersedianya rencana strategis tentang pengelolaan terumbu karang dan di masing masing desa, serta peraturan daerah dan kebijakan tentang alat tangkap dan alat bantu penangkapan, dan RTRW selain itu juga telah tersedianya peraturan bupati dan peraturan desa tentang Daerah Perlindungan Laut (DPL), dan mendorongkan adanya peraturan daerah untuk perikanan berkelanjutan yang berbasis dari hasil penilaian indikator EAFM.

Pemaparan ketiga mengenai perkembangan adopsi kebijakan EAFM di tingkat nasional dilakukan oleh Abdullah Habibi dari WWF-Indonesia (WWF-ID), sebagai wakil dari National Working Group 2 on EAFM. Saat ini Kementrian Kelautan dan Perikanan melalui Direktorat Sumber Daya Ikan sudah bergerak maju dengan menyetujui adanya indikator EAFM sebagai dasar dalam pembuatan pengelolaan perikanan. Ke depannya, Direktorat Sumber Daya Ikan – Kementerian Kelautan Perikanan akan mendukung pengadopsian indikator EAFM ini melalui pembuatan peraturan khusus. Selain itu, untuk mendukung implementasi EAFM, NWG 2 sepakat untuk membangun Standar Kerja Khusus yang disusun dengan tujuan agar ke depannya seluruh stakeholder perikanan memiliki basis yang sama tentang EAFM, baik dari tingkat pengelola di daerah hingga pengambil kebijakan. Saat ini Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM), Direktorat Sumber Daya Ikan (Dit. SDI), dan National Working Group 2 Coral Triangle Initiative (NWG 2 – CTI) tengah bekerja sama dan berkoordinasi dalam proses dan tahapan penyusunan Standar Kompetensi Kerja Khusus (SK3) EAFM.

Pertemuan ini ditutup dengan pengisian matriks progres implementasi National Plan of Action CTI – CFF goal 2 Tahun 2010 – 2013, dan matriks usulan implementasi National Plan of Action CTI – CFF goal 2 Tahun 2014 – 2016 oleh para peserta yang antara lain terdiri dari: Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumber Daya Ikan (P4KSI), Direktorat Pesisir dan Lautan, Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (Ditjen. KP3K), Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan (KKJI), Direktorat Sumber Daya Ikan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen. PT) Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (Ditjen. P2HP), dan WWF-ID.

1 Komentar:
  • DANANJAYA
    22 November 2013 12:48:19

    cukup menarik informasinya, mungkin perlu yang lebih ilmiah pemaparannya dan melalui suatu kajian agar mendekati kebenarannya.

Isi Komentar
 isi 8 digit karakter di sebelah kiri
Pilih bahasa :    

Kumpulan Penelitian EAFM Indonesia

Silakan berpartisipasi dalam EAFM Indonesia dengan memasukkan data dan tulisan Anda.
Kirimkan ke: eafm.id@gmail.com

Panjang pertama kali matang gonad (Lm) beberapa jenis ikan

  • Banyar (2013) : 18,03 FL

  • Barakuda (2013) : F:66.0 FL/ M:60.0 FL

  • Baronang (2013) : 24 cm

  • Bawal Hitam (2013) : 22-24 cm

  • Bawal Putih (2013) : 18 cm

  • Belanak (2013) : 24-26 cm

  • Butana (2013) : 18.0 FL

  • Cakalang (2013) : 40-41.9 cm

  • Gerotgerot (2013) : 40.0 cm

  • Kakap Merah (2013) : 42.9 FL

  • Kakap Putih (2013) : 29-60 cm

  • Kambing kambing (2013) : 14.0 TL

  • Kembung (2013) : 16,89 FL

  • Kepiting Bakau (2013) : 9-10 up CL/301-400 gr

  • Kerang Dara (2013) : M : 2.720-2.950 cm/ F:2.230-3.050 cm

  • Kerapu (2013) : 39 cm

  • Kuniran (2013) : F:13.6-14.3/ M:14.4-15.1 cm

  • Kurau (2013) : F:28.5-29 cm/ M:22.5-24.3 cm

  • Kurisi (2013) : F:15-18 cm

  • Kuwe (2013) : 42.0 SL

  • Layang (2013) : 16,21 FL

  • Layang Deles (2013) : Jantan : 19,6-20,1
    Betina : 19,8-20,3

  • Layaran (2013) : 156-250 cm

  • Lemuru (2013) : 15.0 cm
    Betina: 9,9 (TL)

  • Lencam (2013) : 45.3 cm

  • Mahi-mahi (2013) : 65 cm

  • Mata Tujuh (2013) : M:3.51-4.0/ F:4.01-4.5 cm

  • Pari (2013) : M:59.9-69.1 /F:59.9-69.1 cm

  • Pari Manta (2013) : 380-460 cm

  • Peperek (2013) : 13.0 SL

  • Rajungan (2013) : 7-9 cm (CL)

  • Selar Bentong (2013) : 20,80 FL

  • Selar Kuning (2013) : J: 13,9-14,2
    B: 13,5-13,8 (TL)

  • Slanget (2013) : Jantan : 13,9-14,6
    Betina : 13,1-13,8 (TL)

  • Tembang (2013) : 11,95 FL

  • Tenggiri (2013) : 40-45 cm

  • Teri Jengki (2013) : 6 cm

  • Teripang (2013) : 16 cm,184 gr

  • Tongkol (2013) : 35 cm

  • Tongkol Komo (2013) : 40-65 cm

  • Tongkol Krai (2013) : 29-30 cm

  • Tuna Albakor (2013) : 107.5 cm

  • Tuna Mata Besar (2013) : Jantan : 140,5-151,9
    Betina : 133,5-137,9(FL)

  • Tuna Sirip Biru (2013) : 140 cm

  • Tuna Sirip Kuning (2013) : 137,50 (FL)

Estimasi Potensi Sumberdaya Ikan Keputusan Menteri KP No. 50/KEPMEN-KP/2017

O

F

M

Over Exploited Fully Exploited Moderate
Tabel SDI WPP-571
Jenis Ikan Status Stok
- Ikan pelagis kecil F
- Ikan pelagis besar F
- Ikan demersal M
- Ikan karang M
- Udang penaeid O
- Lobster O
- Kepiting O
- Rajungan F
- Cumi-cumi F
Tabel SDI WPP-572
Jenis Ikan Status Stok
- Ikan pelagis kecil F
- Ikan pelagis besar F
- Ikan demersal F
- Ikan karang M
- Udang penaeid O
- Lobster F
- Kepiting M
- Rajungan M
- Cumi-cumi M
Tabel SDI WPP-573
Jenis Ikan Status Stok
- Ikan pelagis kecil O
- Ikan pelagis besar O
- Ikan demersal M
- Ikan karang O
- Udang penaeid O
- Lobster F
- Kepiting M
- Rajungan F
- Cumi-cumi O
Tabel SDI WPP-711
Jenis Ikan Status Stok
- Ikan pelagis kecil O
- Ikan pelagis besar F
- Ikan demersal F
- Ikan karang O
- Udang penaeid F
- Lobster F
- Kepiting O
- Rajungan O
- Cumi-cumi O
Tabel SDI WPP-712
Jenis Ikan Status Stok
- Ikan pelagis kecil M
- Ikan pelagis besar F
- Ikan demersal F
- Ikan karang O
- Udang penaeid O
- Lobster O
- Kepiting F
- Rajungan F
- Cumi-cumi O
Tabel SDI WPP-713
Jenis Ikan Status Stok
- Ikan pelagis kecil O
- Ikan pelagis besar O
- Ikan demersal F
- Ikan karang O
- Udang penaeid F
- Lobster O
- Kepiting F
- Rajungan F
- Cumi-cumi O
Tabel SDI WPP-714
Jenis Ikan Status Stok
- Ikan pelagis kecil M
- Ikan pelagis besar F
- Ikan demersal F
- Ikan karang F
- Udang penaeid M
- Lobster O
- Kepiting O
- Rajungan F
- Cumi-cumi O
Tabel SDI WPP-715
Jenis Ikan Status Stok
- Ikan pelagis kecil M
- Ikan pelagis besar F
- Ikan demersal M
- Ikan karang M
- Udang penaeid F
- Lobster O
- Kepiting O
- Rajungan F
- Cumi-cumi O
Tabel SDI WPP-716
Jenis Ikan Status Stok
- Ikan pelagis kecil M
- Ikan pelagis besar F
- Ikan demersal M
- Ikan karang O
- Udang penaeid F
- Lobster F
- Kepiting O
- Rajungan F
- Cumi-cumi O
Tabel SDI WPP-717
Jenis Ikan Status Stok
- Ikan pelagis kecil F
- Ikan pelagis besar O
- Ikan demersal M
- Ikan karang F
- Udang penaeid M
- Lobster O
- Kepiting F
- Rajungan O
- Cumi-cumi O
Tabel SDI WPP-718
Jenis Ikan Status Stok
- Ikan pelagis kecil F
- Ikan pelagis besar F
- Ikan demersal F
- Ikan karang O
- Udang penaeid F
- Lobster F
- Kepiting F
- Rajungan F
- Cumi-cumi O

Pengunjung

Group Mailing List EAFM Indonesia

Komentar Pengunjung

  • alwi PPs STP jakarta pada Network Dalam Pengembangan EAFM di Indonesia

    sustainability dapat di realisasikan jika kesadaran sosial ekonomi dan lingkungan dapat sinergis dan berperan akan tetapi tantangan dari ketiga hal tersebut masih cukup sulit di aplikasikan

  • Pak Supardin pada Profil Perikanan Indonesia

    apakah profilnya bisa lebih dilengkapi lagi? tks

  • DANANJAYA pada Peluncuran website EAFM-Indonesia

    cukup menarik informasinya, mungkin perlu yang lebih ilmiah pemaparannya dan melalui suatu kajian agar mendekati kebenarannya.

  • Imran AMin pada Network Dalam Pengembangan EAFM di Indonesia

    EAFM hanya bisa diimplementasikan jika pemerintah sudah bisa mengubah paradigma penentuan potensi lestari sumberdaya perikanan kita. Mengubah dari pendekatan nasional based ke satuan pengelolaan perikanan terkecil. potensi lestari per WPP pun masih sangat bias nantinya, karena kelembagaan pengelolaan WPP itu sendiri masih berfragmentasi antara pusat propinsi dan kabupaten. Dalam menentukan potensi lestari tersebut pun tidak lagi menggunakan pendekatan linier dan single species, tapi mulai memperhatikan factor-factor yang mempengaruhi keberadaan kelimpahan ikan. misalnya nilai potensi lestri kawasan Teluk Jakarta, atau kawasan-kawasan lain yang indikator ekosistemnya bias terukur. Tidak seperti saat ini, yang jadi acuan kita hanya potemsi letari nasional... Kalau paradigma dasar ini sudah dirubah, maka penerapan EAFM akan menjadi sangat mudah... tinggal menentukan effort maksimal yang diperbolehkan berdasarkan informasi perluasan specific di atas.

  • Agussalim pada UNPATTI Ambon
    EAFM sangat aplikabel dan sesuai tuntutan kondisi untuk perikanan berkelanjutan. Tim EAFM Indonesia patut dapat apresiasi. secara pribadi saya mengucapkan terimakasih kepada Bpk James Abrahamsz (koordinator EAFM Wilayah Maluku/ Dosen Pascasarjana Unpatti Ambon) atas kesediaannya menjadi pembimbing penelitian saya tentang EAFM. dan terimakasih kepada Kanda Muhammad Yusuf (WWF-Indonesia) atas support dan inspirasinya untuk fokus penelitian kepada EAFM. Terimakasih pula kepada Bapk Prof. Samsu Alam (Unhas) atas laporan tentang EAFM Ikan terbang (ternayata EAFM aplikatif pula untuk spesies tertentu). EAFM seharusnya menjadi roadmap pengelolaan perikanan, dan segenap praktisi, akademisi dan pengambil kebijakan perikanan harus menguasai ini.
0 orang
47 orang
193 orang
10159 orang
Kunjungi kami juga di: