Berita

Membangun Pengelolaan Perikanan dengan Pendekatan Ekosistem

Kabupaten Flores Timur merupakan salah satu icon perikanan di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan penangkapan perikanan pelagis dan didukung oleh adanya industri perikanan berskala ekspor. Aktivitas penangkapan tersebut didominasi oleh alat tangkap pole and line, pancing ulur dan pancing tonda yang mentargetkan komoditi Tuna dan Cakalang dalam memenuhi permintaan perusahaan ikan.

Berdasarkan Data BPS, nilai CPUE pada perikanan pelagis dan demersal menunjukkan tren penurunan dalam 4 tahun terakhir. Aktivitas perikanan di kabupaten ini mulai tidak berjalan efektif, jumlah trip yang terganggu dengan sulitnya mencari umpan hidup berupa ikan layang (Tembang), semakin jauh lokasi penangkapan hingga berdampak pada konflik perikanan dengan wilayah penangkapan kabupaten tetangga, dan mengakibatkan semakin maraknya aktivitas penangkapan, seperti bom dan potassium yang terus merusak habitat laut. Survey terbaru mengenai kesehatan terumbu karang di Kabupaten Flores Timur secara umum menunjukkan bahwa terumbu karang di kabupaten ini berada dalam kondisi buruk-sedang (< 50%), dimana hal ini terjadi karena kurang konsistenya kelembagaan dalam mengatur pembangunan diwilayah pesisir dan laut.

Pengelolaan perikanan yang ada saat ini masih berorientasi dalam mendukung peningkatan perekonomian kabupaten saja, permintaan pasar melalui industri perikanan terus mengeruk sumberdaya ikan yang ada tanpa didukung oleh adanya kebijakan yang mendukung perikanan berkelanjutan. Memperhitungkan pentingnya habitat dan ekosistem laut sebagai wilayah strategis penyedia lumbung ikan yang perlu dijaga mendorong WWF-Indonesia memperkenalkan pengelolaan perikanan berbasis ekosistem ditingkat kabupaten. Diawali dengan pelatihan EAFM dibulan Januari 2012 yang diselenggarakan oleh EAFM yang diselenggarakan oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), PKSPL dan WWF-Indonesia, Pengelolaan dengan pendekatan ekosistem mulai dipahami dan dirasakan kebutuhannya.

Pasca kegiatan pelatihan EAFM tersebut, DKP Kabupaten Flores Timur, UNKAW dan WWF-Indonesia Lesser Sunda Solor Alor Project bersama memulai pengumpulan data dalam penilaian performa instrumen EAFM di kabupaten Flores Timur, bersamaan dengan 4 lokasi pilot test lainnya. Hasil analisa tersebut kemudian dipresentasikan dalam workshop yang diselenggarakan di Larantuka pada 3 Juli 2012 dihadiri oleh 46 peserta yang terdiri dari perwakilan Kementrian Kelautan dan Perikanan, SKPD Kabupaten Flores Timur, DKP Provinsi Nusa Tenggara Timur, Komandan Ditrict 1624, Polairud, Konsorsium Akademis UniCornSuFish, Perwakilan Masyarakat nelayan, HNSI dan  pihak Industri Perikanan di Kabupaten Flores Timur. Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk memberikan pemahaman Pengelolaan Perikanan Berbasis Ekosistem yang terintegrasi antar Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) dan stakeholder perikanan.

Pengarahan dari  Bapak Hary Cristijanto A.Pi, MSc sebagai narasumber dari Kementrian Kelautan dan Perikanan, Donny M Bessie, SPi dari Universitas Arta Wacana dan Dwi Ariyogagautama dari WWF-Indonesia, berusaha memberikan gambaran besar pentingnya pengelolaan perikanan berbasis ekosistem di daerah dengan aktivitas perikanan yang tinggi seperti di kabupaten Flores Timur ini. Dalam pertemuan ini juga dibahas korelasi antara agenda pembentukan Kawasan konservasi Perairan Daerah (KKPD) di Kabupaten Flores Timur dalam mendukung pengelolaan perikanan yang berkelanjutan. Sebagai langkah membangun perikanan dan kelautan yang berkelanjutan melalui pendekatan ekosistem, peserta merekomendasikan 3 hal, yaitu :

1. Pengembangan dan Internalisasi EAFM
EAFM disepakati untuk diadopsi sebagai data dasar dalam mendukung pengembangan Rencana Induk (Master Plan) Kelautan dan Pesisir di Kabupaten Flores Timur.

2. Penguatan Tim Multipihak Dalam  Pengembangan dan Implementasi EAFM
Perlunya mendorong pembuatan revisi SK Bupati untuk Tim Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) dengan instrumen EAFM sebagai program kerja Tim dalam mendukung terbentuknya Pengelolaan Perikanan Berbasis Ekosistem

3. Manajemen dan Kolaborasi Implementasi EAFM
Proses internalisasi EAFM akan dilakukan secara kolaboratif antara SKPD yang tergabung dalam Tim KKPD Kabupaten Flores Timur, dengan melibatkan akademisi dan industri perikanan.

Hasil keputusan ini sesuai dengan 3 amanat kegiatan yang diharapkan oleh Bupati Flores Timur yaitu (i) kebijakan nasional dan Kebijakan daerah dalam mendukung pembentukan pengelolaan perikanan berbasis ekosistem melalui EAFM sebagai dasar pengelolaan perikanan di Kabupaten Flores Timur, (ii) sinkronisasi program antar SKPD dalam mendukung perikanan yang berkelanjutan dan (iii) perlunya Satuan Kerja dalam menjalankan Pengelolaan Perikanan Berbasis Ekosistem di Kabupaten Flores Timur yaitu melalui tim KKPD.

Tindak lanjut dari rekomendasi tersebut dimulai dengan pertemuan penguatan tim Pengkajian dan Penetapan Kawasan Konservasi Perairan Daerah (PPKKPD) Kabupaten Flores Timur dengan membuat pokja khusus perikanan berkelanjutan dengan aktivitas dalam melakukan penilaian EAFM dan juga sebagai tim diskusi dalam pengelolaan perikanan yang kolaboratif diantara SKPD, akademisi, dan LSM lokal. Saat ini, SK Bupati sedang dibuat untuk memperkuat kerja tim.

Dalam mempersiapkan peningkatan kapasitas penilaian EAFM ini, tim PPKKPD kabupaten Flores Timur bersama WWF-Indonesia menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Pengelolaan Perikanan Berbasis yang dilaksanakan di Larantuka selama 3 hari yaitu  2-4 Oktober 2012. Kegiatan ini didukung oleh Dr. Ir. Sugeng Hari W, MSi dari PKSPL-IPB sebagai pemateri utama yang membantu memberikan pemahaman tim dalam melakukan pengambilan data indikator EAFM. Melalui kegiatan ini pula peserta mempraktekkan pembuatan analisa penilaian performa pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem berdasarkan data kajian sebelumnya. Tugas selanjutnya bagi tim PPKKPD adalah mendorongkan penilaian dengan indikator EAFM masuk dalam agenda Pemerintah daerah ditahun berikutnya sebagai bahan guna mulai membenahi pengelolaan perikanan di kabupaten Flores Timur ini (YG).

 

Penulis: Dwi Ariyogagautama

Tidak ada komentar
Isi Komentar
 isi 8 digit karakter di sebelah kiri
Pilih bahasa :    

Kumpulan Penelitian EAFM Indonesia

Silakan berpartisipasi dalam EAFM Indonesia dengan memasukkan data dan tulisan Anda.
Kirimkan ke: eafm.id@gmail.com

Panjang pertama kali matang gonad (Lm) beberapa jenis ikan

  • Banyar (2013) : 18,03 FL

  • Barakuda (2013) : F:66.0 FL/ M:60.0 FL

  • Baronang (2013) : 24 cm

  • Bawal Hitam (2013) : 22-24 cm

  • Bawal Putih (2013) : 18 cm

  • Belanak (2013) : 24-26 cm

  • Butana (2013) : 18.0 FL

  • Cakalang (2013) : 40-41.9 cm

  • Gerotgerot (2013) : 40.0 cm

  • Kakap Merah (2013) : 42.9 FL

  • Kakap Putih (2013) : 29-60 cm

  • Kambing kambing (2013) : 14.0 TL

  • Kembung (2013) : 16,89 FL

  • Kepiting Bakau (2013) : 9-10 up CL/301-400 gr

  • Kerang Dara (2013) : M : 2.720-2.950 cm/ F:2.230-3.050 cm

  • Kerapu (2013) : 39 cm

  • Kuniran (2013) : F:13.6-14.3/ M:14.4-15.1 cm

  • Kurau (2013) : F:28.5-29 cm/ M:22.5-24.3 cm

  • Kurisi (2013) : F:15-18 cm

  • Kuwe (2013) : 42.0 SL

  • Layang (2013) : 16,21 FL

  • Layang Deles (2013) : Jantan : 19,6-20,1
    Betina : 19,8-20,3

  • Layaran (2013) : 156-250 cm

  • Lemuru (2013) : 15.0 cm
    Betina: 9,9 (TL)

  • Lencam (2013) : 45.3 cm

  • Mahi-mahi (2013) : 65 cm

  • Mata Tujuh (2013) : M:3.51-4.0/ F:4.01-4.5 cm

  • Pari (2013) : M:59.9-69.1 /F:59.9-69.1 cm

  • Pari Manta (2013) : 380-460 cm

  • Peperek (2013) : 13.0 SL

  • Rajungan (2013) : 7-9 cm (CL)

  • Selar Bentong (2013) : 20,80 FL

  • Selar Kuning (2013) : J: 13,9-14,2
    B: 13,5-13,8 (TL)

  • Slanget (2013) : Jantan : 13,9-14,6
    Betina : 13,1-13,8 (TL)

  • Tembang (2013) : 11,95 FL

  • Tenggiri (2013) : 40-45 cm

  • Teri Jengki (2013) : 6 cm

  • Teripang (2013) : 16 cm,184 gr

  • Tongkol (2013) : 35 cm

  • Tongkol Komo (2013) : 40-65 cm

  • Tongkol Krai (2013) : 29-30 cm

  • Tuna Albakor (2013) : 107.5 cm

  • Tuna Mata Besar (2013) : Jantan : 140,5-151,9
    Betina : 133,5-137,9(FL)

  • Tuna Sirip Biru (2013) : 140 cm

  • Tuna Sirip Kuning (2013) : 137,50 (FL)

Estimasi Potensi Sumberdaya Ikan Keputusan Menteri KP No. 50/KEPMEN-KP/2017

O

F

M

Over Exploited Fully Exploited Moderate
Tabel SDI WPP-571
Jenis Ikan Status Stok
- Ikan pelagis kecil F
- Ikan pelagis besar F
- Ikan demersal M
- Ikan karang M
- Udang penaeid O
- Lobster O
- Kepiting O
- Rajungan F
- Cumi-cumi F
Tabel SDI WPP-572
Jenis Ikan Status Stok
- Ikan pelagis kecil F
- Ikan pelagis besar F
- Ikan demersal F
- Ikan karang M
- Udang penaeid O
- Lobster F
- Kepiting M
- Rajungan M
- Cumi-cumi M
Tabel SDI WPP-573
Jenis Ikan Status Stok
- Ikan pelagis kecil O
- Ikan pelagis besar O
- Ikan demersal M
- Ikan karang O
- Udang penaeid O
- Lobster F
- Kepiting M
- Rajungan F
- Cumi-cumi O
Tabel SDI WPP-711
Jenis Ikan Status Stok
- Ikan pelagis kecil O
- Ikan pelagis besar F
- Ikan demersal F
- Ikan karang O
- Udang penaeid F
- Lobster F
- Kepiting O
- Rajungan O
- Cumi-cumi O
Tabel SDI WPP-712
Jenis Ikan Status Stok
- Ikan pelagis kecil M
- Ikan pelagis besar F
- Ikan demersal F
- Ikan karang O
- Udang penaeid O
- Lobster O
- Kepiting F
- Rajungan F
- Cumi-cumi O
Tabel SDI WPP-713
Jenis Ikan Status Stok
- Ikan pelagis kecil O
- Ikan pelagis besar O
- Ikan demersal F
- Ikan karang O
- Udang penaeid F
- Lobster O
- Kepiting F
- Rajungan F
- Cumi-cumi O
Tabel SDI WPP-714
Jenis Ikan Status Stok
- Ikan pelagis kecil M
- Ikan pelagis besar F
- Ikan demersal F
- Ikan karang F
- Udang penaeid M
- Lobster O
- Kepiting O
- Rajungan F
- Cumi-cumi O
Tabel SDI WPP-715
Jenis Ikan Status Stok
- Ikan pelagis kecil M
- Ikan pelagis besar F
- Ikan demersal M
- Ikan karang M
- Udang penaeid F
- Lobster O
- Kepiting O
- Rajungan F
- Cumi-cumi O
Tabel SDI WPP-716
Jenis Ikan Status Stok
- Ikan pelagis kecil M
- Ikan pelagis besar F
- Ikan demersal M
- Ikan karang O
- Udang penaeid F
- Lobster F
- Kepiting O
- Rajungan F
- Cumi-cumi O
Tabel SDI WPP-717
Jenis Ikan Status Stok
- Ikan pelagis kecil F
- Ikan pelagis besar O
- Ikan demersal M
- Ikan karang F
- Udang penaeid M
- Lobster O
- Kepiting F
- Rajungan O
- Cumi-cumi O
Tabel SDI WPP-718
Jenis Ikan Status Stok
- Ikan pelagis kecil F
- Ikan pelagis besar F
- Ikan demersal F
- Ikan karang O
- Udang penaeid F
- Lobster F
- Kepiting F
- Rajungan F
- Cumi-cumi O

Pengunjung

Group Mailing List EAFM Indonesia

Komentar Pengunjung

  • alwi PPs STP jakarta pada Network Dalam Pengembangan EAFM di Indonesia

    sustainability dapat di realisasikan jika kesadaran sosial ekonomi dan lingkungan dapat sinergis dan berperan akan tetapi tantangan dari ketiga hal tersebut masih cukup sulit di aplikasikan

  • Pak Supardin pada Profil Perikanan Indonesia

    apakah profilnya bisa lebih dilengkapi lagi? tks

  • DANANJAYA pada Peluncuran website EAFM-Indonesia

    cukup menarik informasinya, mungkin perlu yang lebih ilmiah pemaparannya dan melalui suatu kajian agar mendekati kebenarannya.

  • Imran AMin pada Network Dalam Pengembangan EAFM di Indonesia

    EAFM hanya bisa diimplementasikan jika pemerintah sudah bisa mengubah paradigma penentuan potensi lestari sumberdaya perikanan kita. Mengubah dari pendekatan nasional based ke satuan pengelolaan perikanan terkecil. potensi lestari per WPP pun masih sangat bias nantinya, karena kelembagaan pengelolaan WPP itu sendiri masih berfragmentasi antara pusat propinsi dan kabupaten. Dalam menentukan potensi lestari tersebut pun tidak lagi menggunakan pendekatan linier dan single species, tapi mulai memperhatikan factor-factor yang mempengaruhi keberadaan kelimpahan ikan. misalnya nilai potensi lestri kawasan Teluk Jakarta, atau kawasan-kawasan lain yang indikator ekosistemnya bias terukur. Tidak seperti saat ini, yang jadi acuan kita hanya potemsi letari nasional... Kalau paradigma dasar ini sudah dirubah, maka penerapan EAFM akan menjadi sangat mudah... tinggal menentukan effort maksimal yang diperbolehkan berdasarkan informasi perluasan specific di atas.

  • Agussalim pada UNPATTI Ambon
    EAFM sangat aplikabel dan sesuai tuntutan kondisi untuk perikanan berkelanjutan. Tim EAFM Indonesia patut dapat apresiasi. secara pribadi saya mengucapkan terimakasih kepada Bpk James Abrahamsz (koordinator EAFM Wilayah Maluku/ Dosen Pascasarjana Unpatti Ambon) atas kesediaannya menjadi pembimbing penelitian saya tentang EAFM. dan terimakasih kepada Kanda Muhammad Yusuf (WWF-Indonesia) atas support dan inspirasinya untuk fokus penelitian kepada EAFM. Terimakasih pula kepada Bapk Prof. Samsu Alam (Unhas) atas laporan tentang EAFM Ikan terbang (ternayata EAFM aplikatif pula untuk spesies tertentu). EAFM seharusnya menjadi roadmap pengelolaan perikanan, dan segenap praktisi, akademisi dan pengambil kebijakan perikanan harus menguasai ini.
3 orang
42 orang
204 orang
11107 orang
Kunjungi kami juga di: