Berita

Peningkatan Nilai Indikator Pengelolaan Perikanan Pada Beberapa Lokasi Program WWF

Sejak tahun 2012, WWF-Indonesia bekerja sama dengan Learning Center (LC) EAFM dari beberapa kampus di Indonesia, untuk melakukan penilaian performa pengelolaan perikanan tangkap dengan menggunakan indikator EAFM. Lokasi yang dinilai performa pengelolaan perikanannya, meliputi unit pengelolaan berbasis kabupaten, propinsi, dan Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP). Hasil penilaian EAFM secara detil dapat dilihat dan diunduh dalam 19 laporan EAFM yang disusun oleh setiap LC EAFM di lokasi masing-masing, yaitu:

  1. 2012 - EAFM Ikan karang dan Tuna Wakatobi _ UHO Kendari
  2. 2012 - EAFM Ikan karang dan Udang Kab. Berau _ UNMUL
  3. 2012 - EAFM Ikan Terbang Selat Makassar _ UNHAS Makassar
  4. 2012 - EAFM Kab Flores Timur NTT _ UKAW Kupang
  5. 2012 - EAFM Kab. Alor NTT _ UKAW Kupang
  6. 2012 - EAFM Kab. Lembata NTT _ UKAW Kupang
  7. 2012 - EAFM Kab. Maluku Tenggara _ UNPATTI Ambon
  8. 2013 - EAFM WPP 714 Sultra Konsel, Konawe, Buton Utara, Wakatobi _ UNHALU Makassar
  9. 2014 - EAFM Laut Banda WPP 714 _ UNPATTI Ambon
  10. 2014 - EAFM NTB - WPP 713 _ UNRAM Mataram
  11. 2014 - EAFM WPP 713 - Sikka dan Manggarai Barat NTT _ UKAW Kupang
  12. 2014 - EAFM WPP 713 Kaltim, NTB, NTT, Sulsel, Sulbar, Sulteng _ UNHAS Makassar
  13. 2014 - EAFM WPP 714 - Flores Timur, Lembata, Alor - NTT _ UKAW Kupang
  14. 2014 - EAFM WPP 714 Sulteng - Donggala, Banggai, Balaut _ STPL Palu Palu
  15. 2015 - EAFM KAB. Maluku Tenggara _ UNPATTI Ambon
  16. 2016 - EAFM Kab. Manggarai Barat NTT _ UKAW Kupang
  17. 2016 - EAFM Kab. Wakatobi Sultra _ UHO Kendari
  18. 2016 - EAFM KKPD Sultra _ UHO Kendari
  19. 2016 - EAFM Taka Bonerate Kab. Selayar - Sulsel _ UNHAS Makassar

Khusus untuk lokasi yang didampingi oleh WWF-Indonesia secara intensif, dapat dilihat pada summary info grafis pada tautan di bawah ini:

Tren EAFM pada Beberapa Lokasi Dampingan WWF-Indonesia.

Tidak ada komentar
Isi Komentar
 isi 8 digit karakter di sebelah kiri
Pilih bahasa :    

Kumpulan Penelitian EAFM Indonesia

Silakan berpartisipasi dalam EAFM Indonesia dengan memasukkan data dan tulisan Anda.
Kirimkan ke: eafm.id@gmail.com

Panjang pertama kali matang gonad (Lm) beberapa jenis ikan

  • Banyar (2013) : 18,03 FL

  • Barakuda (2013) : F:66.0 FL/ M:60.0 FL

  • Baronang (2013) : 24 cm

  • Bawal Hitam (2013) : 22-24 cm

  • Bawal Putih (2013) : 18 cm

  • Belanak (2013) : 24-26 cm

  • Butana (2013) : 18.0 FL

  • Cakalang (2013) : 40-41.9 cm

  • Gerotgerot (2013) : 40.0 cm

  • Kakap Merah (2013) : 42.9 FL

  • Kakap Putih (2013) : 29-60 cm

  • Kambing kambing (2013) : 14.0 TL

  • Kembung (2013) : 16,89 FL

  • Kepiting Bakau (2013) : 9-10 up CL/301-400 gr

  • Kerang Dara (2013) : M : 2.720-2.950 cm/ F:2.230-3.050 cm

  • Kerapu (2013) : 39 cm

  • Kuniran (2013) : F:13.6-14.3/ M:14.4-15.1 cm

  • Kurau (2013) : F:28.5-29 cm/ M:22.5-24.3 cm

  • Kurisi (2013) : F:15-18 cm

  • Kuwe (2013) : 42.0 SL

  • Layang (2013) : 16,21 FL

  • Layang Deles (2013) : Jantan : 19,6-20,1
    Betina : 19,8-20,3

  • Layaran (2013) : 156-250 cm

  • Lemuru (2013) : 15.0 cm
    Betina: 9,9 (TL)

  • Lencam (2013) : 45.3 cm

  • Mahi-mahi (2013) : 65 cm

  • Mata Tujuh (2013) : M:3.51-4.0/ F:4.01-4.5 cm

  • Pari (2013) : M:59.9-69.1 /F:59.9-69.1 cm

  • Pari Manta (2013) : 380-460 cm

  • Peperek (2013) : 13.0 SL

  • Rajungan (2013) : 7-9 cm (CL)

  • Selar Bentong (2013) : 20,80 FL

  • Selar Kuning (2013) : J: 13,9-14,2
    B: 13,5-13,8 (TL)

  • Slanget (2013) : Jantan : 13,9-14,6
    Betina : 13,1-13,8 (TL)

  • Tembang (2013) : 11,95 FL

  • Tenggiri (2013) : 40-45 cm

  • Teri Jengki (2013) : 6 cm

  • Teripang (2013) : 16 cm,184 gr

  • Tongkol (2013) : 35 cm

  • Tongkol Komo (2013) : 40-65 cm

  • Tongkol Krai (2013) : 29-30 cm

  • Tuna Albakor (2013) : 107.5 cm

  • Tuna Mata Besar (2013) : Jantan : 140,5-151,9
    Betina : 133,5-137,9(FL)

  • Tuna Sirip Biru (2013) : 140 cm

  • Tuna Sirip Kuning (2013) : 137,50 (FL)

KEPMEN KP NOMOR 50 TAHUN 2017 TENTANG ESTIMASI POTENSI, JTB, DAN TINGKAT PEMANFAATAN SUMBER DAYA IKAN DI WPP NRI
Over Exploited Fully Exploited Moderate
Jenis Ikan Potensi (Ton)
& Status Stok
JTB
Nasional 12.541.437 10.033.147

Pengunjung

Group Mailing List EAFM Indonesia

Komentar Pengunjung

  • alwi PPs STP jakarta pada Network Dalam Pengembangan EAFM di Indonesia

    sustainability dapat di realisasikan jika kesadaran sosial ekonomi dan lingkungan dapat sinergis dan berperan akan tetapi tantangan dari ketiga hal tersebut masih cukup sulit di aplikasikan

  • Pak Supardin pada Profil Perikanan Indonesia

    apakah profilnya bisa lebih dilengkapi lagi? tks

  • DANANJAYA pada Peluncuran website EAFM-Indonesia

    cukup menarik informasinya, mungkin perlu yang lebih ilmiah pemaparannya dan melalui suatu kajian agar mendekati kebenarannya.

  • Imran AMin pada Network Dalam Pengembangan EAFM di Indonesia

    EAFM hanya bisa diimplementasikan jika pemerintah sudah bisa mengubah paradigma penentuan potensi lestari sumberdaya perikanan kita. Mengubah dari pendekatan nasional based ke satuan pengelolaan perikanan terkecil. potensi lestari per WPP pun masih sangat bias nantinya, karena kelembagaan pengelolaan WPP itu sendiri masih berfragmentasi antara pusat propinsi dan kabupaten. Dalam menentukan potensi lestari tersebut pun tidak lagi menggunakan pendekatan linier dan single species, tapi mulai memperhatikan factor-factor yang mempengaruhi keberadaan kelimpahan ikan. misalnya nilai potensi lestri kawasan Teluk Jakarta, atau kawasan-kawasan lain yang indikator ekosistemnya bias terukur. Tidak seperti saat ini, yang jadi acuan kita hanya potemsi letari nasional... Kalau paradigma dasar ini sudah dirubah, maka penerapan EAFM akan menjadi sangat mudah... tinggal menentukan effort maksimal yang diperbolehkan berdasarkan informasi perluasan specific di atas.

2 orang
44 orang
202 orang
1728 orang
Kunjungi kami juga di: