Tabel Analisis Komposit Indikator Teknik Penangkapan WPP-571

Analisis pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem untuk aspek teknis menggunakan enam (6) indikator utama yaitu : (1) fishing capacity; (2) selektivitas alat tangkap; (3) metode penangkapan ikan yang bersifat destruktif; (4) Perubahan fungsi, ukuran dan jumlah kapal penangkap ikan; (5) Modifikasi alat penangkapan ikan dan alat bantu penangkapan dan (6) Sertifikasi awak kapal perikanan sesuai dengan peraturan.

Analisis Komposit Teknik Penangkapan WPP 571
Indikator Teknik Penangkapan Unit Data Bobot Skor Nilai Flag
Destructive dan illegal fishing

Penggunaan bom, potasium cukup tinggi di Riau, Aceh dan Sumut mencapai 50-100 %. KPenggunaan mencapai > 100%. Kondisi TK di pesisir Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi & utara Papua, sebanyak (< 25%) dlm kondisi sangat buruk. Hanya 5.47% (sgt baik), 27,56% (baik) (LIPI, 2008). Penyebab kerusakan terbesar TK disinyalir berasal dari aktivitas pengeboman

16,67 2 33,33  
Modifikasi alat tangkap

Pemanfaatan pukat ikan tinggi dan berkembangn modifikasi alat tangkap yg diklasifikasikan sbg trawl (BRKP, 2007). Penggunaan dogol mencpai 1.252 unit. Jumlah ini di bawah rata-rata nasional (semua WPP) yaitu 5378.

16,67 2 33,33  
Fishing capacity dan effort

Status pengusahaan ikan demersal & udang melampaui daya dukung (overfishing) dan pengusahaan ikan pelagic kecil (full exploited) (BRKP, 2007).

16,67 1 16,67  
Selektivitas alat tangkap

Penggunaan pukat cincin (purse seine) dg ukuran mata jaring 1 inchi dominan (2.875 unit) dan menurunkan stok ikan pelagic kecil pada tahap full exploited. Pukat ikan (fish net) (595), trawl/dogol (1252), purse sein (2875). Sedangkan rata-rata penggunaan scra nasional, pukat ikan (376), dogol (813) dan purse seine (677). Jd penggunaan aalat tngkap di atas rata2 (>75%).

16,67 2 33,33  
Kesesuaian fungsi dan ukuran kapal

Terjadi peningkatan armada tangkap dari skala kecil ke arah menangah dan besar, khususnya pada ukuran 10-30 GT (2007-2008) dg alat tangkap dominan pukat cincin dan trawl (BRKP, 2007)

16,67 2 33,33  
Sertifikasi awak kapal perikanan

Jumlah kapal ukuran > 30 GT sebanyak 591 unit.Dg asumsi rata2 awak 23 org/kpl. Maka awak mencapai 13.593 org. 20% nya = 2719. sdgkan total sertifikat yg dikeluarkan = 10.091. jika dibagi 11 WPP sekitar 917 org. jd perkiraan kepemilikan sertifikat > 100 %

16,67 3 50  
100 12 199,99  

Pengelolaan perikanan tidak cukup hanya dengan mempertimbangkan target populasi yang berkelanjutan. Namun, pengelolaan perikanan perlu juga mempertimbangkan ekosistem dan sumberdaya hayati yang berkelanjutan sebagai habitat dari populasi ikan. Dampak ekosistem akibat pemanfaatan sumberdaya hayati menjadi penting untuk diidentifikasi lebih awal agar kerusakan sumberdaya bisa diminimalisir dan diantisipasi sehingga tidak menimbulkan degradasi sumberdaya hayati yang berkelanjutan. Pendekatan yang lebih mengedepankan aspek keberlanjutan ekosistem ini lebih dikenal dengan pendekatan ekosistem terhadap manajemen perikanan tangkap. Pengendalian perikanan tangkap berlansgung tanpa kendali. Pada daerah dengan stok yang sudah menipispun, laju penangkapan masih terus meningkat. Sehingga keterbatasan akses terhadap sumberdaya, tidak jarang menimbulkan konflik perebutan sumberdaya ikan. Pengendalian perikanan tangkap secara teknis hendaknya dilakukan dengan mengontrol upaya penangkapan (input control), manajemen hasil tangkapan (output control) dan pengendalian ekosistem.

Fishing Capacity

Manajemen upaya penangkapan salah satunya dilakukan dengan pembatasan jumlah dan ukuran kapal (fishing capacity). Pada tahun 2005, FAO mengajak seluruh negara untuk menerapkan management of fishing capacity. Istilah fishing capacity biasanya berkaitan dengan overcapacity dan overfishing. Fishing capacity merupakan kemampuan unit kapal perikanan (dengan segala aspeknya) untuk menangkap ikan. Kemampuan ini bergantung pada volume stok sumberdaya ikan yang ditangkap (baik musiman maupun tahunan) dan kemampuan alat tangkap itu sendiri (Sri Wiyono, 2010). Fishing capacity diukur berdasarkan dua indikator utama yaitu : (1) karekteristik kapal (vessel characteristics); (2) karekteristik alat tangkap (fishing gear charecteristic) (UE, 2008). Fishing capacity selama ini dihitung berdasarkan karekteristik kapal. Indikator yang banyak digunakan adalah tonase dari sebuah kapal yang menunjukkan kekuatan kapal dan tenaga mesin yang digunakan. Selain tonase dan kekuatan kapal, kapasitas alat tangkap (fishing gear) juga sering dijadikan sebagai indikator kapasitas penangkapan. Fishing capacity menjadi input control dalam menajemen perikanan tangkap. Input perikanan yang berlebih berpotensi menimbulkan kapasitas yang berlebih (overcapacity). Jadi, overcapacity diartikan sebagai situasi berlebihnya kapasitas input perikanan (armada penangkapan ikan) yang digunakan untuk menghasilakn output perikanan (hasil tangkapan ikan) pada level tertentu. Overcapacity yang berlangsung terus menerus akan menyebabkan overfishing. Overfishing dengan demikian merupakan kondisi di saat output perikanan (hasil tangkapan ikan) melebihi batas maximumnya. Berlebihnya armada tangkap dengan tonase yang beragam di beragam dan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan berpotensi menimbulkan degradasi sumberdaya ikan. Mengukur tingkat fishing kendali dapat didekati dengan status perikanan yang ditimbulkannya yaitu seberapa jauh tingkat pemanfaatan sumberdaya perikanan di masing-masing wilayah pengelolaan. Karena hakekatnya tingkat pemanfaatan sumberdaya perikanan memerlukan input perikanan. Tingkat ekploitasi yang tinggi menunjukkan bahwa inputnya berlebih. Selektivitas Alat Tangkap Pengelolaan perikanan secara teknis juga mencakup pengaturan alat dan pembatasan daerah musim perikanan tangkap. Pembatasan alat tangkap berkaitan dengan selektivitas alat tangkap. Hal ini terkait dengan spesifikasi jaring untuk menangkap ikan spesies tertentu atau meloloskan ikan bukan tujuan tangkap (by cath) serta efek terhadap ekosistem. Selektifitas alat tangkap terkait dengan ukuran mata jaring dan jumlah pancing yang digunakan untuk menangkap ikan. Mata jaring yang kecil berpotensi menangkap ikan-ikan yang berukuran kecil. Mata jaring yang kecil berpotensi menghambat perkembangan ikan-ikan kecil yang berpotensi berkembang lebih besar lagi. Ukuran mata jaring yang kecil dapat menghambat regenerasi dan pertumbuhan ikan. Terkait dengan selektifitas alat tangkap ini terdapat beberapa alat tangkap yang dianggap mempunyai mata jaring kecil dan berpotensi menghambat pertumbuhan ikan seperti Pukat ikan, pukat udang, purse seine, gill net dan trawl. Peraturan tentang penggunaan mata jaring inipun telah diatur berdasarkan beberapa aturan. Beberapa ketentuan ukuran alat penangkapan ikan dapat dilihat pada Tabel 4-23 berikut ini. Tabel 4-23. Aturan Ukuran Alat Penangkapan Ikan Berdasarkan peraturan-peraturan tersebut, maka indikator ini disusun dengan mempertimbangkan penggunaan alat-alat tangkap yang diidentifikasi mempunyai ukuran mata jaring yang kecil. Pengukuran didekati dengan melihat seberapa banyak jumlah penggunaan alat tangkap yang diidentifikasi menggunakan mata jaring dengan ukuran kecil tersebut dalam sebuah wilayah pengelolaan. Metode Penangkapan Ikan yang Destruktif Metode penangkapan ikan yang destruktif akan memberikan tekanan terhadap kelestarian sumberdaya ikan dan ekosistemnya. Penangkapan ikan yang destruktif meliputi penggunaan bahan-bahan yang merusak seperti bom, potassium, listrik dan racun. Kategori metode yang destruktif adalah pemanfaatan sumberdaya ikan dengan menggunakan metode penangkapan ikan yang tidak sesuai peraturan. Larangan penggunaan metode penangkapan ikan yang destruktif ini diatur dalam UU No.31/2004 Jo. No.45/2009 tentang perikanan pasal 8 ayat 1 sampai 3 serta pasal 12 ayat 1 dan 4. Aturan itu menegaskan dengan sangat jelas bahwa penggunaan bahan-bahan destruktif tersebut dilarang dan penggunanya dapat dikenakan sangsi. Penggunaan bom dan potasium serta bahan-bahan destruktif lainnya terbukti di banyak tempat telah menghancurkan ekosistem terumbu karang dan habitat ikan. Hancurnya ekosistem akan menimbulkan degradasi sumberdaya ikan dan habitatnya. Keberlanjutan generasi perikanan menjadi terhambat dan laju produksi perikanan pada glirannya akan menurun. Metode destruktif lainnya adalah pemanfaatan sumberdaya ikan dengan menggunakan metode yang merusak lingkungan perairan. Dasar aturan dari penggunaan metode destruktif ini berdasarkan pada Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1982 tentang Pelaksanaan Keputusan Presiden RI Nomor 39 Tahun 1980 tentang instruksi Presiden RI terhitung mulai tanggal 1 Januari 1983 di seluruh Indonesia tidak lagi terdapat kapal perikanan yang menggunakan jaring trawl. Penggunaan trawl mengalami pasang surut. Penggunaan trawl dilarang karena terbukti memiliki ukuran mata jaring yang kecil dan bergerak di dasar perairan yang berpotensi merusak lingkungan laut dan menghabiskan stok ikan yang berkuran kecil. Dengan nama yang berbeda, trawl kembali diberlakukan namun sifatnya terbatas di beberapa lokasi dengan alasan tertentu. Hal ini dijelaskan dalam Peraturan Menteri No.06/MEN/2008 pasal 3 dan 4 tentang Penggunaan alat penangkapan ikan Pukat hela di perairan Kalimantan Timur Bagian Utara. Alasan diperbolehkannya pukat hela –baca : trawl- di daerah perbatasan tersebut adalah untuk menyaingi maraknya praktek illegal fishing dan masuknya nelayan Malaysia dan negara lain ke wilayah perairan Kalimantan timur. Perubahan fungsi, ukuran dan jumlah kapal penangkap ikan Perubahan fungsi didefiniskan sebagai Perubahan fungsi, ukuran dan jumlah kapal dalam melakukan operasi penangkapan ikan. Manfaat dari indikator ini adalah Mengetahui dampak tekanan penangkapan terhadap kelestarian SDI. Pendekatan dalam melihat indikator ini dengan mendata adanya perubahan armada dari skala kecil ke arah skala besar yg berpotensi menimbulkan tekanan thd SDI yg lebih besar. Semakin banyak jumlah kapal dengan kapasitas tinggi berpotensi memicu adanya tekanan terhadap kelestarian sumberdaya ikan jika daya dukung dari perairan tersebut tidak mencukupi. Pendataan lebih kepada melihat ada tidaknya peningkatan armada tangkap dengan kapasitas 30 GT ke atas. Modifikasi alat penangkapan ikan dan alat bantu penangkapan Modifikasi alat penangkapan idedifinisikan sebagai penggunaan alat tangkap dan alat bantu yang tidak sesuai dengan peraturan. Penyusunan ini dilakukan untuk mengetahui dampak alat tangkap dan alat bantu penangkapan terhadap kelestarian SDI. Alat tangkap yang dianggap mengancam merupakan modifikasi dari alat tangkap yang secara jelas dilarang penggunaannya seperti trawl. Trawl ini dimodifikasi dalam alat tangkap tertentu seperti dogol, arad dan cantrang. Di beberapa daerah seperti di Pantura, penggunaan alat-alat tangkap ini sangat besar dan banyak. Alat-alat tangkap ini berpotensi menimbulkan tekanan terhadap sumberdaya ikan dan akhirnya merusak lingkungan karena biasa diberlakukan di dasar laut. Selama ini tidak ada aturan yang secara spesifik membatasi penggunaan dogol, arad dan cantrang. Tetapi penggunaan dogol dan lainnya merupakan modifikasi dari trawl yang dilarang oleh pemerintah. Seperti halnya di daerah perairan Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu, konflik sering terjadi antara nelayan Cantrang, dogol dan arad dengan nelayan tadisional (ukuran kecil). Hal itu disebabkan karena pengoperasian cantrang dan lainnya sering digunakan di dasar lingkungan sehingga berpotensi merusak lingkungan laut. Sertifikasi awak kapal perikanan sesuai dengan peraturan Sertifikasi ini didefiniskan sebagai pengembangan kualifikasi kecakapan awak kapal perikanan. Sertifikasi awak kapal dilakukan dengan manfaat untuk penerapan kegiatan penangkapan ikan yang bertanggung jawab oleh awak kapal perikanan. Indikator ini didekati dengan mengukur tingkat kepemilikan awak kapal terhadap sertifikat ANKAPIN dan ATKAPIN. Sertifikasi ini diatur dalam Peraturan Pemerintah nomor 7 tahun 2000 tentang Kepelautan pasal 2-6 meliputi sertifikat keahlian pelaut dan sertifikat keterampilan pelaut. Kepemilikan ANKAPIN juga diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan nomor KM 9 tahun 2005 tentang Pendidikan dan Pelatihan, Ujian serta Sertifikasi Pelaut Kapal Penangkap Ikan. Dalam aturan ini disebutkan bahwa awak kapal diwajibkan mempunyai ANKAPIN I-III dan ATKAPIN I-III. Anjuran ini ditegaskan lagi dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Perhubungan Laut Nomor UX.II/7/4/DJPL-09 tentang Sertifikasi Kepelautan Kapal Penangkap Ikan Tahun (2007) (2008) (2009). Surat edaran ini memerintahkan agar awak kapal mempunyai sertifikat keterampilan pelaut. A. WPP 571 Wilayah pengelolaan perikanan (WPP) 571 meliputi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Sumatera Utara dan Riau. Perikanan yang berkembang di WPP 571 adalah perikanan demersal (termasuk udang) dan pelagic kecil hanya sebagian kecil terdapat perikanan pelagic besar di bagian barat laut yang berdekatan dengan perairan Laut Andaman. Alat tangkap yang banyak berkembang di WPP 571 adalah pukat cincin yang semula hanya berada di sekitar perairan pantai, kemudian berkembang semakin jauh ke lepas pantai. Perkembangan pukat cincin ini disebabkan adanya perkembangan tipe armada yang semula didominasi oleh ukuran kecil atau mini menjadi ukuran sedang atau bahkan besar. Perubahan jumlah armada diikuti oleh semakin jauhnya daerah penangkapan (fishing ground). Saat ini, selain menjangkau perairan bagian utara dari Selat Malaka (timur Aceh) dan wilayah perbatasan dengan Malaysia juga beberapa di antaranya beroperasi di perairan laut Natunan dan sekitarnya. Daerah penangkapan ikan dengan pukat ikan mencapai perairan di luar 12 mil dari pantai pada kedalaman 40-60 m terutama di perairan sekitar P. Berhala, P. Pandan dan perairan Aceh timur. Daerah penangkapan pukat apung yang berbasis di Tanjungbalai adalah perairan P. Berhala, P. Salamon, Panipukan, P. Jemur, Tanjung api dan Tanjung bagan, pada kedalaman antara 30-50 m (BRKP, 2007). Status pengusahaan ikan demersal dan udang sudah melampaui daya dukungnya (overfishing). Penyebabnya diduga karena tingginya pengoperasian pukat cincin pada kedalaman lebih dari 20 m serta berkembangnya modifikasi alat tangkap ikan demersal dan udang yang dapat diklasifikasi sebagai trawl (BRKP, 2007). Kondisi tersebut semakin diperparah dengan maraknya praktek illegal fishing yang terjadi di WPP 571. Selain ikan-ikan demersal, WPP 571 juga mempunyai potensi ikan pelagic yang besar. Tingkat pengusahaan ikan pelagic kecil berada pada tahapan fully exploited. Alat tangkap purse seine mempunyai kontribusi nyata dalam penangkapan ikan pelagic, di samping itu, wilayah WPP 571 juga marak praktek illegal fishing. Ikan pelagic merupakan share stock dengan Malaysia sehingga penangkapan yang dilakukan oleh nelayan Malaysia akan mempengaruhi sediaan pelagic kecil. Sedangkan untuk ikan pelagic besar, tingkat pengusahaannya belum dapat ditetapkan karena sifat yang merupakan migratory species yang beruaya jauh (high migratory). Tetapi dengan melihat trens CPUE nya belum menunjukkan gejala penurunan dan perikanan pelagic besar masih mungkin untuk dikembangkan dengan catatan monitoring terhadap CPUE terus dilakukan (BRKP, 2007).

Pilih bahasa :    

Kumpulan Penelitian EAFM Indonesia

Silakan berpartisipasi dalam EAFM Indonesia dengan memasukkan data dan tulisan Anda.
Kirimkan ke: eafm.id@gmail.com

Panjang pertama kali matang gonad (Lm) beberapa jenis ikan

  • Banyar (2013) : 18,03 FL

  • Barakuda (2013) : F:66.0 FL/ M:60.0 FL

  • Baronang (2013) : 24 cm

  • Bawal Hitam (2013) : 22-24 cm

  • Bawal Putih (2013) : 18 cm

  • Belanak (2013) : 24-26 cm

  • Butana (2013) : 18.0 FL

  • Cakalang (2013) : 40-41.9 cm

  • Gerotgerot (2013) : 40.0 cm

  • Kakap Merah (2013) : 42.9 FL

  • Kakap Putih (2013) : 29-60 cm

  • Kambing kambing (2013) : 14.0 TL

  • Kembung (2013) : 16,89 FL

  • Kepiting Bakau (2013) : 9-10 up CL/301-400 gr

  • Kerang Dara (2013) : M : 2.720-2.950 cm/ F:2.230-3.050 cm

  • Kerapu (2013) : 39 cm

  • Kuniran (2013) : F:13.6-14.3/ M:14.4-15.1 cm

  • Kurau (2013) : F:28.5-29 cm/ M:22.5-24.3 cm

  • Kurisi (2013) : F:15-18 cm

  • Kuwe (2013) : 42.0 SL

  • Layang (2013) : 16,21 FL

  • Layang Deles (2013) : Jantan : 19,6-20,1
    Betina : 19,8-20,3

  • Layaran (2013) : 156-250 cm

  • Lemuru (2013) : 15.0 cm
    Betina: 9,9 (TL)

  • Lencam (2013) : 45.3 cm

  • Mahi-mahi (2013) : 65 cm

  • Mata Tujuh (2013) : M:3.51-4.0/ F:4.01-4.5 cm

  • Pari (2013) : M:59.9-69.1 /F:59.9-69.1 cm

  • Pari Manta (2013) : 380-460 cm

  • Peperek (2013) : 13.0 SL

  • Rajungan (2013) : 7-9 cm (CL)

  • Selar Bentong (2013) : 20,80 FL

  • Selar Kuning (2013) : J: 13,9-14,2
    B: 13,5-13,8 (TL)

  • Slanget (2013) : Jantan : 13,9-14,6
    Betina : 13,1-13,8 (TL)

  • Tembang (2013) : 11,95 FL

  • Tenggiri (2013) : 40-45 cm

  • Teri Jengki (2013) : 6 cm

  • Teripang (2013) : 16 cm,184 gr

  • Tongkol (2013) : 35 cm

  • Tongkol Komo (2013) : 40-65 cm

  • Tongkol Krai (2013) : 29-30 cm

  • Tuna Albakor (2013) : 107.5 cm

  • Tuna Mata Besar (2013) : Jantan : 140,5-151,9
    Betina : 133,5-137,9(FL)

  • Tuna Sirip Biru (2013) : 140 cm

  • Tuna Sirip Kuning (2013) : 137,50 (FL)

Estimasi Potensi Sumberdaya Ikan Keputusan Menteri KP No.45/MEN/2011

O

F

M-F

M

Over Exploited Fully Exploited To Fully-Exp Moderate
Tabel SDI WPP-571
Jenis Ikan Status Stok
UDANG O
DEMERSAL F
- Kurau O
- Manyung O
- Kurisi F
- Kuniran F
- Swanggi F
- Bloso F
- Gumalah F
- Kakap merah O(3)
- Pelagis kecil F
- Banyar O
- Kembung O
- D.macarellus F
- D.macrosoma F
- D.ruselli F
- Golok-golok M
Tuna Besar
- Cakalang M
Tabel SDI WPP-572
Jenis Ikan Status Stok
UDANG O
DEMERSAL F
- Layur M
- Kurisi F
- Kuniran F
- Swanggi F
- Bloso F
- Gumalah F
- Kakap merah O(4)
- Kerapu O(4)
PELAGIS KECIL O
- Banyar O
- Kembung O
Tuna Besar
- Cakalang M
- Madidihag F
- Mata besar O
Tabel SDI WPP-573
Jenis Ikan Status Stok
UDANG O
DEMERSAL M
- Layur M
- Kakap merah F(5)
- Kuwe F(5)
PELAGIS KECIL F
- D.kuroides M
- Lemuru O(6)
Tuna Besar
- Cakalang M
- Albakora F
- Madidihang F
- Mata besar O
- Sbt O
- Cumi-cumi M
Tabel SDI WPP-711
Jenis Ikan Status Stok
UDANG O
DEMERSAL F
- Kurau O
- Manyung F
PELAGIS KECIL O
- Banyar F
- Kembung F
- D.macrosoma F
- D.ruselli F
- Cumi-cumi M
Tabel SDI WPP-712
Jenis Ikan Status Stok
UDANG O
DEMERSAL F
- Kurisi M(1)
- Kuniran F
- Swanggi M(1)
- Bloso F
- Kakap merah O
- Kerapu O
PELAGIS KECIL O
- Banyar O
- Kembung O
- D.macrosoma O
- D.resulli O
Tabel SDI WPP-713
Jenis Ikan Status Stok
UDANG O
DEMERSAL O
- Kakap merah M(2)
- Kerapu M(2)
PELAGIS KECIL O
- Ikan terbang O
Tuna Besar
- Cakalang M
- Madidihang O
- Mata besar F
Tabel SDI WPP-714
Jenis Ikan Status Stok
DEMERSAL F
PELAGIS KECIL F
- D. macarellus M-F
- D.macrosoma M-F
Tuna Besar
- Cakalang M
- Madidihang F
- Mata besar O
- Cumi-cumi M
Tabel SDI WPP-715
Jenis Ikan Status Stok
UDANG O
DEMERSAL M
- Kakap merah F
- Kerapu F
PELAGIS KECIL F
- Ikan terbang F
- D.kuroides F
- D.macarellius M
Tuna Besar
- Cakalang M
- Madidihang F
- Mata besar O
Tabel SDI WPP-716
Jenis Ikan Status Stok
DEMERSAL M
- Manyung M
- Kakap merah M
- Kerapu M
- Kuwe M
PELAGIS KECIL M
- D.kuroides M
- D.macarellus M
Tuna Besar
- Cakalang M
- Madidihang F
- Mata besar O
Tabel SDI WPP-717
Jenis Ikan Status Stok
UDANG O
DEMERSAL M
PELAGIS KECIL M
Tuna Besar
- Cakalang M
- Madidihag O
- Mata besar O
Tabel SDI WPP-718
Jenis Ikan Status Stok
UDANG F
DEMERSAL O(*)
- Mayung O
- Kurisi O
- Kuniran O
- Swanggi O
- Bloso O
- Gumalah O
- Kakap merah O
- Ikan lidah F
- Palagis kecil M

Pengunjung

Group Mailing List EAFM Indonesia

Komentar Pengunjung

6 orang
258 orang
1263 orang
11514 orang
Kunjungi kami juga di: