Tabel Analisis Komposit Indikator Teknik Penangkapan WPP-573

Sebagaimana WPP 572, perairan di wilayah ini rata-rata didominasi oleh perairan dalam dan berbatasan langsung dengan peraian internasional. Sehingga sifat perikanannya lebih didominasi oleh perikanan pelagic besar yang beruaya jauh (high migratory) seperti tuna. Alat tangkap yang banyak berkembang adalah rawai tuna dan pancing tuna.

Analisis Komposit Teknik Penangkapan WPP 573
Indikator Teknik Penangkapan Unit Data Bobot Skor Nilai Flag
Destructive dan illegal fishing

Tingkat penggunaan Bom, potasium, tinggi atau > 100 %. Penggunaan mencapai > 100%. Kondisi TK di pesisir Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi & utara Papua, sebanyak (< 25%) dlm kondisi sangat buruk. Hanya 5.47% (sgt baik), 27,56% (baik) (LIPI, 2008). Penyebab kerusakan terbesar TK disinyalir berasal dari aktivitas pengeboman

16,67 1 16,67  
Modifikasi alat tangkap

Penggunaan dogol dan alat tangkap lain yg merupakan modifikasi trawl mencapai 10.645 unit (DKP, 2008). Jumlah ini di atas rata-rata nasional (semua WPP) yaitu 5378

16,67 1 16,67  
Fishing capacity dan effort

Pengusahaan jenis-jenis ikan pelagic besar, demersal dan udang serta pelagic kecil neritik sdh pada tahapan full exploited (BRKP, 2007)

16,67 2 33,33  
Selektivitas alat tangkap

Penggunaan trawl/dogol (10.645), pukat tarik ikan (1674) dan purse seine (7392) di atas rata-rata (> 75%). Alat tangkap spt trawl, pukat ikan dan pukat cincin disinyalir mempunyai ukuran jaring yg kecil. Sedangkan rata-rata penggunaan scra nasional, pukat ikan (376), dogol (813) dan purse seine (677)

16,67 1 16,67  
Kesesuaian fungsi dan ukuran kapal

Terjadi kenaikan kekuatan armada pd skala 5-20 GT. Sdgkan pada ukuran > 30 GT cenderung tetap. Kenaikan < 50%

16,67 3 50  
Sertifikasi awak kapal perikanan

Jumlah kapal ukuran > 30 GT sebanyak 2461.Dg asumsi rata2 awak 23 org/kpl. Maka awak mencapai 56.603 org. 20% nya = 11.321. sdgkan total sertifikat yg dikeluarkan = 10.091. jika dibagi 11 WPP sekitar 917 org. jd perkiraan kepemilikan sertifikat > 100%

16,67 3 50  
100 11 183,34  

WPP 573 merupakan lokasi pendaratan ikan terbesar yaitu Benoa di Bali dan Muara baru Jakarta. Armada yang banyak berkembang didominasi oleh aramada-armada besar. Armada yang mendominasi di WPP ini adalah armada dengan kapasitas < 5 GT yang perkembangannya terus naik dari 4.910 (2007) naik menjadi 5.732 (2008). Trend kenaikan armada tangkap terjadi pada kapal-kapal dengan ukuran 5-30 GT dan cenderung tetap pada armada-armada dengan ukuran > 30 GT. Di WPP 573 ini juga jumlah armada dengan ukuran 100-1000 GT banyak berlabuh. Jumlah armada dengan ukuran 500-1000 GT mencapai 14 unit dan > 1000 GT terdapat 1 unit. Kondisi armada yang didominasi oleh aramada-armada besar ini menunjukkan bahwa target perikanannya adalah pelagic besar seperti tuna.

Status perikanan tuna semakin berkurang yang ditunjukkan secara biologis dengan ukuran tangkap semakin kecil. Sejak tahun 1950an sampai 2000, kondisi ukuran ikan tuna semakin mengecil. Hal ini menunjukkan bahwa di WPP 573 telah terjadi biological overfishing. Menipisnya stok perikanan tuna di wilayah ZEE mendorong nelayan-nelayan tuna melakukan penangkapan sampai ke wilayah di luar ZEE dan perairan yang berbatasan dengan perairan Sri langka. Karena beroperasi di perairan lintas negara memerlukan biaya besar, meskipun hasilnya cukup baik. Kelompok ikan pelagic kecil yang banyak ditangkap adalah pelagic kecil neritik yang pergerakannya di wilayah dekat pantai sampai pada kedalaman 100 m. Alat tangkap yang banyak beroperasi pada perikanan ini adalah pukat cincin yang sampai saat ini keberadaannya mencapai 7.392 (2008). Alat tangkap lain yang dominan di wilayah ini adalah jaring insang hanyut (33.550 unit, tahun 2008) dan jaring insang tetap (21.910 unit, tahun 2008). Jaring insang hanyut dan tetap merupakan alat tangkap dengan selektifitas alat tangkap yang rendah. Penggunaan alat tangkap jaring insang hanyut dibatasi pada ukuran mata jaring kantong min 10 cm dan mata jaring kantong jaring insang tetap dibatasi min 20 cm. Meskipun dalam prakteknya masih banyak beroperasi alat tangkap jaring insang dengan mata jaring lebih kecil dari ukuran yang ditetapkan berdasarkan aturan yang berlaku (Permen No. PER.08/MEN/2008 tentang penggunaan alat penangkapan ikan jaring insang (gill net) di ZEEI). Penggunaan alat tangkap dengan ukuran mata jaring yang kecil tersebut memicu tertangkapnya ikan-ikan dengan ukuran kecil sehingga semakin memicu terjadi degradasi dan kelangkaan sumberdaya ikan.

Sedangkan pada perikanan ikan demersal dan udang di Samudera Hindia bergerak pada kedalaman 100 m sehingga wilayah penangkapannya relatif sempit dan dekat pantai. Alat tangkap utama yang dipergunakan adalah pukat tarik ikan dan pukat tarik udang, jaring insang dasar dan rawai dasar. Jumlah pukat tarik di WPP 573 mencapai 1674 (2008), pukat tarik udang 3.248 (2008) meliputi pukat tarik udang tunggal (stern shrimp trawl) dan pukat tarik ganda (double shrimp trawl), jaring insang dasar 15.837 dan rawai dasar (set bottom long line) mencapai 4.358 unit (2008). Kondisi pengusahaan jenis-jenis ikan pelagic besar, demersal dan udang serta pelagic kecil neritik sudah pada tahapan fully exploited (BRKP, 2007). Perikanan pelagic kecil dan demersal masih terbatas pada wilayah yang dekat pantai sehingga ke depan perlu didorong ke tengah. Pengembangan perikanan demersal masih dimungkinkan pada kedalaman > 100 m dengan tingkat ke hati-hatian. Sedangkan pelagic kecil didorong ke arah penangkapan pelagic kecil oseanik.

Pilih bahasa :    

Kumpulan Penelitian EAFM Indonesia

Silakan berpartisipasi dalam EAFM Indonesia dengan memasukkan data dan tulisan Anda.
Kirimkan ke: eafm.id@gmail.com

Panjang pertama kali matang gonad (Lm) beberapa jenis ikan

  • Banyar (2013) : 18,03 FL

  • Barakuda (2013) : F:66.0 FL/ M:60.0 FL

  • Baronang (2013) : 24 cm

  • Bawal Hitam (2013) : 22-24 cm

  • Bawal Putih (2013) : 18 cm

  • Belanak (2013) : 24-26 cm

  • Butana (2013) : 18.0 FL

  • Cakalang (2013) : 40-41.9 cm

  • Gerotgerot (2013) : 40.0 cm

  • Kakap Merah (2013) : 42.9 FL

  • Kakap Putih (2013) : 29-60 cm

  • Kambing kambing (2013) : 14.0 TL

  • Kembung (2013) : 16,89 FL

  • Kepiting Bakau (2013) : 9-10 up CL/301-400 gr

  • Kerang Dara (2013) : M : 2.720-2.950 cm/ F:2.230-3.050 cm

  • Kerapu (2013) : 39 cm

  • Kuniran (2013) : F:13.6-14.3/ M:14.4-15.1 cm

  • Kurau (2013) : F:28.5-29 cm/ M:22.5-24.3 cm

  • Kurisi (2013) : F:15-18 cm

  • Kuwe (2013) : 42.0 SL

  • Layang (2013) : 16,21 FL

  • Layang Deles (2013) : Jantan : 19,6-20,1
    Betina : 19,8-20,3

  • Layaran (2013) : 156-250 cm

  • Lemuru (2013) : 15.0 cm
    Betina: 9,9 (TL)

  • Lencam (2013) : 45.3 cm

  • Mahi-mahi (2013) : 65 cm

  • Mata Tujuh (2013) : M:3.51-4.0/ F:4.01-4.5 cm

  • Pari (2013) : M:59.9-69.1 /F:59.9-69.1 cm

  • Pari Manta (2013) : 380-460 cm

  • Peperek (2013) : 13.0 SL

  • Rajungan (2013) : 7-9 cm (CL)

  • Selar Bentong (2013) : 20,80 FL

  • Selar Kuning (2013) : J: 13,9-14,2
    B: 13,5-13,8 (TL)

  • Slanget (2013) : Jantan : 13,9-14,6
    Betina : 13,1-13,8 (TL)

  • Tembang (2013) : 11,95 FL

  • Tenggiri (2013) : 40-45 cm

  • Teri Jengki (2013) : 6 cm

  • Teripang (2013) : 16 cm,184 gr

  • Tongkol (2013) : 35 cm

  • Tongkol Komo (2013) : 40-65 cm

  • Tongkol Krai (2013) : 29-30 cm

  • Tuna Albakor (2013) : 107.5 cm

  • Tuna Mata Besar (2013) : Jantan : 140,5-151,9
    Betina : 133,5-137,9(FL)

  • Tuna Sirip Biru (2013) : 140 cm

  • Tuna Sirip Kuning (2013) : 137,50 (FL)

Estimasi Potensi Sumberdaya Ikan Keputusan Menteri KP No.45/MEN/2011

O

F

M-F

M

Over Exploited Fully Exploited To Fully-Exp Moderate
Tabel SDI WPP-571
Jenis Ikan Status Stok
UDANG O
DEMERSAL F
- Kurau O
- Manyung O
- Kurisi F
- Kuniran F
- Swanggi F
- Bloso F
- Gumalah F
- Kakap merah O(3)
- Pelagis kecil F
- Banyar O
- Kembung O
- D.macarellus F
- D.macrosoma F
- D.ruselli F
- Golok-golok M
Tuna Besar
- Cakalang M
Tabel SDI WPP-572
Jenis Ikan Status Stok
UDANG O
DEMERSAL F
- Layur M
- Kurisi F
- Kuniran F
- Swanggi F
- Bloso F
- Gumalah F
- Kakap merah O(4)
- Kerapu O(4)
PELAGIS KECIL O
- Banyar O
- Kembung O
Tuna Besar
- Cakalang M
- Madidihag F
- Mata besar O
Tabel SDI WPP-573
Jenis Ikan Status Stok
UDANG O
DEMERSAL M
- Layur M
- Kakap merah F(5)
- Kuwe F(5)
PELAGIS KECIL F
- D.kuroides M
- Lemuru O(6)
Tuna Besar
- Cakalang M
- Albakora F
- Madidihang F
- Mata besar O
- Sbt O
- Cumi-cumi M
Tabel SDI WPP-711
Jenis Ikan Status Stok
UDANG O
DEMERSAL F
- Kurau O
- Manyung F
PELAGIS KECIL O
- Banyar F
- Kembung F
- D.macrosoma F
- D.ruselli F
- Cumi-cumi M
Tabel SDI WPP-712
Jenis Ikan Status Stok
UDANG O
DEMERSAL F
- Kurisi M(1)
- Kuniran F
- Swanggi M(1)
- Bloso F
- Kakap merah O
- Kerapu O
PELAGIS KECIL O
- Banyar O
- Kembung O
- D.macrosoma O
- D.resulli O
Tabel SDI WPP-713
Jenis Ikan Status Stok
UDANG O
DEMERSAL O
- Kakap merah M(2)
- Kerapu M(2)
PELAGIS KECIL O
- Ikan terbang O
Tuna Besar
- Cakalang M
- Madidihang O
- Mata besar F
Tabel SDI WPP-714
Jenis Ikan Status Stok
DEMERSAL F
PELAGIS KECIL F
- D. macarellus M-F
- D.macrosoma M-F
Tuna Besar
- Cakalang M
- Madidihang F
- Mata besar O
- Cumi-cumi M
Tabel SDI WPP-715
Jenis Ikan Status Stok
UDANG O
DEMERSAL M
- Kakap merah F
- Kerapu F
PELAGIS KECIL F
- Ikan terbang F
- D.kuroides F
- D.macarellius M
Tuna Besar
- Cakalang M
- Madidihang F
- Mata besar O
Tabel SDI WPP-716
Jenis Ikan Status Stok
DEMERSAL M
- Manyung M
- Kakap merah M
- Kerapu M
- Kuwe M
PELAGIS KECIL M
- D.kuroides M
- D.macarellus M
Tuna Besar
- Cakalang M
- Madidihang F
- Mata besar O
Tabel SDI WPP-717
Jenis Ikan Status Stok
UDANG O
DEMERSAL M
PELAGIS KECIL M
Tuna Besar
- Cakalang M
- Madidihag O
- Mata besar O
Tabel SDI WPP-718
Jenis Ikan Status Stok
UDANG F
DEMERSAL O(*)
- Mayung O
- Kurisi O
- Kuniran O
- Swanggi O
- Bloso O
- Gumalah O
- Kakap merah O
- Ikan lidah F
- Palagis kecil M

Pengunjung

Group Mailing List EAFM Indonesia

Komentar Pengunjung

6 orang
258 orang
1263 orang
11514 orang
Kunjungi kami juga di: