Tabel Analisis Komposit Indikator Teknik Penangkapan WPP-713

WPP laut Flores dan Selat Makassar meliputi perairan bagian utara yaitu perairan Laut Tarakan dan Nunukan sampai dengan bagian paling Selatan yang terletak di bagian perairan barat Sulawesi Selatan di Selat Makassar sampai dengan perairan Laut Flores. Akhir-akhir ini sumberdaya ikan di Selat Makassar telah mengalami tekanan penangkapan (BRKP, 2007). Ekploitasi ikan demersal dan udang cenderung meningkat dengan massifnya alat tangkap pukat tarik mini (mini trawl) dari kelas ukuran di bawah 30 GT. Jumlah armada dengan kapasitas < 30 GT ini mencapai 25.300 unit (2008) yang banyak berpangkalan di Kalimantan Timur. Penangkapan ikan demersal dengan alat tangkap ini banyak beredar di sepanjang perairan Timur kalimantan. Sedangkan penangkapan ikan pelagic kecil beredar di wilayah bagian selatan Selat Makassar. Penangkapan di wilayah ini sudah berlangsung lama yaitu sejak tahun 1980-an. Kondisi ini semakin diperparah dengan maraknya kapal-kapal asing yang merajalela di WPP ini. Untuk menghalau dan menandingi maraknya pemanfaatan sumberdaya ikan oleh nelayan asing, pemerintah memberlakukan kembali penggunaan trawl secara terbatas di wilayah perairan Timur Kalimantan setalah sebelumnya dilarang. Melalui Peraturan Menteri No.06/MEN/2008 tentang Penggunaan alat penangkapan ikan Pukat hela di perairan Kalimantan Timur Bagian Utara, sumberdaya ikan diharapkan dapat dimanfaatkan oleh nelayan-nelayan lokal/Indonesia. Pemberian ijin menimbulkan kontroversi karena memicu terjadinya pengoperasian trawl di tempat yang lain dengan alasan untuk menghalau/menandingi maraknya nelayan-nelayan asing.

Analisis Komposit Teknik Penangkapan WPP 713
Indikator Teknik Penangkapan Unit Data Bobot Skor Nilai Flag
Destructive dan illegal fishing Penggunaan bom ikan, potasium cukup marak terjadi. Penggunaan mencapai > 100%. Kondisi TK di pesisir Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi & utara Papua, sebanyak (< 25%) dlm kondisi sangat buruk. Hanya 5.11% (sgt baik) & 30,29% (baik) (LIPI, 2008). Penyebab kerusakan terbesar TK disinyalir berasal dari aktivitas pengeboman 16,67 1 16,67  
Modifikasi alat tangkap Penggunaan mini trawl sangat massif (Permen/06/ MEN/2008). Penggunaan dogol dan alat tangkap lain yg merupakan modifikasi trawl mencapai 12.9336 unit (DKP, 2008). Jumlah ini di atas rata-rata nasional (semua WPP) yaitu 5378 16,67 1 16,67  
Fishing capacity dan effort Pengusahaan udang (over exploited); demersal (full exploited); pelagic kecil (moderate); ukuran kapal 30 GT lebih dari 1000 unit (BRKP, 2007) 16,67 2 33,33  
Selektivitas alat tangkap Penggunaan trawl, pukat tarik ikan dan purse seine di atas rata-rata (> 75%). Alat tangkap spt trawl, pukat ikan dan pukat cincin disinyalir mempunyai ukuran jaring yg kecil. Penggunaan pukat ikan (277), dogol (12.933), purse seine (4.140). Sedangkan rata-rata penggunaan scra nasional, pukat ikan (376), dogol (813) dan purse seine (677) 16,67 1 16,67  
Kesesuaian fungsi dan ukuran kapal Terjadi penurunan armada skala 5-20 GT. Naik pd skala 20-30 GT. Dan kembali turun pd skala 30-200 GT. 16,67 2 33,33  
Sertifikasi awak kapal perikanan Jumlah kapal ukuran > 30 GT sebanyak 1046 unit.Dg asumsi rata2 awak 23 org/kpl. Maka awak mencapai 24.058 org. 20% nya = 4812. sdgkan total sertifikat yg dikeluarkan = 10.091. jika dibagi 11 WPP sekitar 917 org. jd perkiraan kepemilikan sertifikat > 100 % 16,67 3 50  
100 10 166,67  

Tekanan terhadap sumberdaya perikanan, selain karena adanya peningkatan kapasitas armada, juga ditandai dengan maraknya aktifitas pengeboman ikan di Laut Flores. Aktivitas ini mengancam kondisi terumbu karang dan menurunkan produksi perikanan. Hal ini ditandai dengan semakin menurunnya hasil tangkapan ikan nelayan di wilayah tersebut. Status perikanan demersal dan udang di wilayah ini sudah mencapai status over exploited. Selain pemanfaatan pukat ikan dan udang yang diduga memiliki selektifitas yang rendah, tingkat pengusahaannya juga semakin tinggi. Armada pukat harimau mini (mini trawl) semakin meningkat setiap tahunnya apalagi pasca pemberian ijin penggunaan pukat hela. Seangkan status perikanan pelagic kecil masih dalam tahap moderate kecuali ikan terbang yang status pengusahaannya telah mencapai tahapan fully exploited. Penangkapan perikanan terbang bergeser hingga mencapai laut Arafura (BRKP, 2007). Jenis-jenis ikan pelagic besar hasil tangkapannya sangat fluktuatif sehingga tingkat pengusahaannya masih belum dapat ditentukan.

Pilih bahasa :    

Kumpulan Penelitian EAFM Indonesia

Silakan berpartisipasi dalam EAFM Indonesia dengan memasukkan data dan tulisan Anda.
Kirimkan ke: eafm.id@gmail.com

Panjang pertama kali matang gonad (Lm) beberapa jenis ikan

  • Banyar (2013) : 18,03 FL

  • Barakuda (2013) : F:66.0 FL/ M:60.0 FL

  • Baronang (2013) : 24 cm

  • Bawal Hitam (2013) : 22-24 cm

  • Bawal Putih (2013) : 18 cm

  • Belanak (2013) : 24-26 cm

  • Butana (2013) : 18.0 FL

  • Cakalang (2013) : 40-41.9 cm

  • Gerotgerot (2013) : 40.0 cm

  • Kakap Merah (2013) : 42.9 FL

  • Kakap Putih (2013) : 29-60 cm

  • Kambing kambing (2013) : 14.0 TL

  • Kembung (2013) : 16,89 FL

  • Kepiting Bakau (2013) : 9-10 up CL/301-400 gr

  • Kerang Dara (2013) : M : 2.720-2.950 cm/ F:2.230-3.050 cm

  • Kerapu (2013) : 39 cm

  • Kuniran (2013) : F:13.6-14.3/ M:14.4-15.1 cm

  • Kurau (2013) : F:28.5-29 cm/ M:22.5-24.3 cm

  • Kurisi (2013) : F:15-18 cm

  • Kuwe (2013) : 42.0 SL

  • Layang (2013) : 16,21 FL

  • Layang Deles (2013) : Jantan : 19,6-20,1
    Betina : 19,8-20,3

  • Layaran (2013) : 156-250 cm

  • Lemuru (2013) : 15.0 cm
    Betina: 9,9 (TL)

  • Lencam (2013) : 45.3 cm

  • Mahi-mahi (2013) : 65 cm

  • Mata Tujuh (2013) : M:3.51-4.0/ F:4.01-4.5 cm

  • Pari (2013) : M:59.9-69.1 /F:59.9-69.1 cm

  • Pari Manta (2013) : 380-460 cm

  • Peperek (2013) : 13.0 SL

  • Rajungan (2013) : 7-9 cm (CL)

  • Selar Bentong (2013) : 20,80 FL

  • Selar Kuning (2013) : J: 13,9-14,2
    B: 13,5-13,8 (TL)

  • Slanget (2013) : Jantan : 13,9-14,6
    Betina : 13,1-13,8 (TL)

  • Tembang (2013) : 11,95 FL

  • Tenggiri (2013) : 40-45 cm

  • Teri Jengki (2013) : 6 cm

  • Teripang (2013) : 16 cm,184 gr

  • Tongkol (2013) : 35 cm

  • Tongkol Komo (2013) : 40-65 cm

  • Tongkol Krai (2013) : 29-30 cm

  • Tuna Albakor (2013) : 107.5 cm

  • Tuna Mata Besar (2013) : Jantan : 140,5-151,9
    Betina : 133,5-137,9(FL)

  • Tuna Sirip Biru (2013) : 140 cm

  • Tuna Sirip Kuning (2013) : 137,50 (FL)

Estimasi Potensi Sumberdaya Ikan Keputusan Menteri KP No. 50/KEPMEN-KP/2017

O

F

M

Over Exploited Fully Exploited Moderate
Tabel SDI WPP-571
Jenis Ikan Status Stok
- Ikan pelagis kecil F
- Ikan pelagis besar F
- Ikan demersal M
- Ikan karang M
- Udang penaeid O
- Lobster O
- Kepiting O
- Rajungan F
- Cumi-cumi F
Tabel SDI WPP-572
Jenis Ikan Status Stok
- Ikan pelagis kecil F
- Ikan pelagis besar F
- Ikan demersal F
- Ikan karang M
- Udang penaeid O
- Lobster F
- Kepiting M
- Rajungan M
- Cumi-cumi M
Tabel SDI WPP-573
Jenis Ikan Status Stok
- Ikan pelagis kecil O
- Ikan pelagis besar O
- Ikan demersal M
- Ikan karang O
- Udang penaeid O
- Lobster F
- Kepiting M
- Rajungan F
- Cumi-cumi O
Tabel SDI WPP-711
Jenis Ikan Status Stok
- Ikan pelagis kecil O
- Ikan pelagis besar F
- Ikan demersal F
- Ikan karang O
- Udang penaeid F
- Lobster F
- Kepiting O
- Rajungan O
- Cumi-cumi O
Tabel SDI WPP-712
Jenis Ikan Status Stok
- Ikan pelagis kecil M
- Ikan pelagis besar F
- Ikan demersal F
- Ikan karang O
- Udang penaeid O
- Lobster O
- Kepiting F
- Rajungan F
- Cumi-cumi O
Tabel SDI WPP-713
Jenis Ikan Status Stok
- Ikan pelagis kecil O
- Ikan pelagis besar O
- Ikan demersal F
- Ikan karang O
- Udang penaeid F
- Lobster O
- Kepiting F
- Rajungan F
- Cumi-cumi O
Tabel SDI WPP-714
Jenis Ikan Status Stok
- Ikan pelagis kecil M
- Ikan pelagis besar F
- Ikan demersal F
- Ikan karang F
- Udang penaeid M
- Lobster O
- Kepiting O
- Rajungan F
- Cumi-cumi O
Tabel SDI WPP-715
Jenis Ikan Status Stok
- Ikan pelagis kecil M
- Ikan pelagis besar F
- Ikan demersal M
- Ikan karang M
- Udang penaeid F
- Lobster O
- Kepiting O
- Rajungan F
- Cumi-cumi O
Tabel SDI WPP-716
Jenis Ikan Status Stok
- Ikan pelagis kecil M
- Ikan pelagis besar F
- Ikan demersal M
- Ikan karang O
- Udang penaeid F
- Lobster F
- Kepiting O
- Rajungan F
- Cumi-cumi O
Tabel SDI WPP-717
Jenis Ikan Status Stok
- Ikan pelagis kecil F
- Ikan pelagis besar O
- Ikan demersal M
- Ikan karang F
- Udang penaeid M
- Lobster O
- Kepiting F
- Rajungan O
- Cumi-cumi O
Tabel SDI WPP-718
Jenis Ikan Status Stok
- Ikan pelagis kecil F
- Ikan pelagis besar F
- Ikan demersal F
- Ikan karang O
- Udang penaeid F
- Lobster F
- Kepiting F
- Rajungan F
- Cumi-cumi O

Pengunjung

Group Mailing List EAFM Indonesia

Komentar Pengunjung

  • alwi PPs STP jakarta pada Network Dalam Pengembangan EAFM di Indonesia

    sustainability dapat di realisasikan jika kesadaran sosial ekonomi dan lingkungan dapat sinergis dan berperan akan tetapi tantangan dari ketiga hal tersebut masih cukup sulit di aplikasikan

  • Pak Supardin pada Profil Perikanan Indonesia

    apakah profilnya bisa lebih dilengkapi lagi? tks

  • DANANJAYA pada Peluncuran website EAFM-Indonesia

    cukup menarik informasinya, mungkin perlu yang lebih ilmiah pemaparannya dan melalui suatu kajian agar mendekati kebenarannya.

  • Imran AMin pada Network Dalam Pengembangan EAFM di Indonesia

    EAFM hanya bisa diimplementasikan jika pemerintah sudah bisa mengubah paradigma penentuan potensi lestari sumberdaya perikanan kita. Mengubah dari pendekatan nasional based ke satuan pengelolaan perikanan terkecil. potensi lestari per WPP pun masih sangat bias nantinya, karena kelembagaan pengelolaan WPP itu sendiri masih berfragmentasi antara pusat propinsi dan kabupaten. Dalam menentukan potensi lestari tersebut pun tidak lagi menggunakan pendekatan linier dan single species, tapi mulai memperhatikan factor-factor yang mempengaruhi keberadaan kelimpahan ikan. misalnya nilai potensi lestri kawasan Teluk Jakarta, atau kawasan-kawasan lain yang indikator ekosistemnya bias terukur. Tidak seperti saat ini, yang jadi acuan kita hanya potemsi letari nasional... Kalau paradigma dasar ini sudah dirubah, maka penerapan EAFM akan menjadi sangat mudah... tinggal menentukan effort maksimal yang diperbolehkan berdasarkan informasi perluasan specific di atas.

  • Agussalim pada UNPATTI Ambon
    EAFM sangat aplikabel dan sesuai tuntutan kondisi untuk perikanan berkelanjutan. Tim EAFM Indonesia patut dapat apresiasi. secara pribadi saya mengucapkan terimakasih kepada Bpk James Abrahamsz (koordinator EAFM Wilayah Maluku/ Dosen Pascasarjana Unpatti Ambon) atas kesediaannya menjadi pembimbing penelitian saya tentang EAFM. dan terimakasih kepada Kanda Muhammad Yusuf (WWF-Indonesia) atas support dan inspirasinya untuk fokus penelitian kepada EAFM. Terimakasih pula kepada Bapk Prof. Samsu Alam (Unhas) atas laporan tentang EAFM Ikan terbang (ternayata EAFM aplikatif pula untuk spesies tertentu). EAFM seharusnya menjadi roadmap pengelolaan perikanan, dan segenap praktisi, akademisi dan pengambil kebijakan perikanan harus menguasai ini.
0 orang
47 orang
193 orang
10159 orang
Kunjungi kami juga di: