Profil Wilayah

Paloh

Pantai tempat bersarang penyu di Paloh, terletak di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, sebelah utara pantai barat provinsi Kalimantan Barat dengan total luas mencapai 6.395,70 km2 atau 4,36% dari total luas Provinsi Kalimantan Barat. Kecamatan Paloh merupakan salah satu dari 19 kecamatan yang merupakan bagian dari wilayah administrasi Kabupaten Sambas. Dari panjang keseluruhan 63 KM, pantai di Kecamatan Paloh, hanya 10 km yang sudah memiliki status sebagai kawasan lindung, yaitu "Taman Wisata Alam Tanjung Belimbing" (Marine Park). Sisanya 53 km sedang dalam proses pembentukan KKLD (Kawasan Konservasi Laut Daerah) oleh pemerintah Kabupaten Sambas.
Keunikan karakteristik di Pantai Paloh adalah penyu hijau (Chelonia mydas) dan Penyu Sisik (Eretmochelys imbricate). Selain penyu, karakteristik unik lainnya adalah ekosistem mangrove, yaitu Api-api (Avicennia sp), Mangrove (Rizhopora Sp), pedada (Sonneratia Sp), Nyirih (Xycarpus granatum), Berus (Bruguiera sp) dan Nipah (Nypa). Total luas lahan mangrove mencapai 660 hektar. Spesies lain yang mendiami wilayah ini adalah habitat Kera Proboscis (Nasalis larvatus) dan Ketam Tapak Kuda (Tachipleus gigas), keduanya dikategorikan sebagai spesies yang dilindungi. Buaya muara (Crocodylus porosus) dan Ekosistem Pinery Laut (Casuarina equisetifolia) lebih memperkaya wilayah ini.
Mata pencaharian masyarakat Paloh cukup bervariasi. Sebagian besar mata pencaharian adalah pertanian, perkebunan (kelapa, karet dan lada), ikan dan budidaya (ikan, lobster dan kepiting mangrove) dan manufaktur.
Pantai di Kecamatan Paloh terdiri dari terumbu karang tepi (fringing reef) yang berlokasi di Tanjung Kemuning dan Tanjung Datuk. Disamping terumbu karang tepi, ada juga terumbu karang penghalang, yang terpisah dari pantai daratan oleh sebuah laguna. Daerahnya mencapai sekitar 1.080 ha. Selain terumbu karang, Paloh Beach juga memiliki keanekaragaman hayati yang meliputi berbagai jenis ikan, dan krustasea (lobster dan kepiting mangrove) dan primata (monyet Proboscis, primata pantai khas).
Sampai saat ini WWF telah melaksanakan berbagai program di Pantai Paloh terutama terkait dengan pengawasan perburuan telur ilegal dan penegakan hukum. Upaya intens dan berkesinambungan telah berhasil menghentikan mencuri kegiatan telur oleh "pemain utama" di wilayah tersebut.
Pengurangan ini berdampak pada peningkatan jumlah tukik. Nilai kesuksesan ini merupakan hasil dari tindakan kolaboratif antara WWF dengan pemangku kepentingan, pemerintah daerah, dan pihak berwenang terkait.
Keberhasilan kegiatan di atas mengakibatkan munculnya respon masyarakat yang peduli pada penyu. Kepedulian masyarakat diwujudkan dengan membentuk kelompok masyarakat (LSM). Selain munculnya LSM sebagai bentuk kesadaran masyarakat, WWF juga memberikan bimbingan kepada masyarakat dalam menciptakan green product, seperti membuat souvenir berbentuk penyu dari limbah kayu. Data yang dikumpulkan oleh WWF juga telah menghasilkan baseline tentang populasi penyu pantai Paloh, diikuti dengan proses untuk membangun Kawasan Konservasi Laut Daerah Sambas yang diperkirakan mencakup wilayah sekitar 250.000 hektar. Usaha surveillance di daerah ini juga telah adanya proses pembentukan Patroli Bersama terdiri dari air Kepolisian, Angkatan Laut, Angkatan Darat Lintas Perbatasan, Polda, Balai Konservasi Sumber Daya Alam, Pemerintah Daerah, Ikatan Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Kelautan, WWF, dan kelompok masyarakat, untuk menerapkan keamanan pantai. Inisiatif ini menunjukkan keseriusan masyarakat Paloh untuk menerapkan upaya konservasi penyu.

For more information: Dwi Suprapti
Email: DSuprapti@wwf.or.id

4350 Komentar: