Profil Wilayah

Solor Alor

Alor Solor wilayah membentang dari barat ke timur dan terletak persis di ujung Timur Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Ada tiga kabupaten utama, Alor, Lembata, dan Flores Timur. Wilayah ini mencakup hingga 4.272,026 hektar hutan mangrove, 7.327,984 hektar terumbu karang dan padang lamun 1.826,177 hektar. Daerah ini kaya akan keanekaragaman hayati laut dengan spesies ikan tercatat 279, 15 spesies cetacea-termasuk ikan paus, empat jenis penyu, dan spesies yang membuat Alor Solor sangat unik, Dugong.
Kabupaten Alor memiliki wilayah terluas, luas daratan adalah 2.864,64 km², laut luas 10.773,62 km².  Populasi penduduk Alor  178 0,964 jiwa. Lembata memiliki luas daratan sekitar 1.266,390 km² dan laut 3.353,995 km². Populasi di Lembata terdaftar sebanyak 110,966 jiwa.  Kabupaten Flores Timur memiliki daratan seluas 1.812,85 km², dengan total luas 4.170,53 km² laut, tetapi memiliki populasi tertinggi sekitar 227,732 jiwa. Sebagian besar masyarakat hidup sebagai nelayan dengan bodi batang dan pukat, perdagangan ikan, hingga budidaya rumput laut.
Tradisi dan budaya antara tiga kabupaten yang sangat dipercaya. Salah satu dari mereka, adalah tradisi berburu paus. Di Lamalera desa, Lembata, paus secara khusus ditangkap untuk penduduk desa yaitu Paus Sperma, sementara di Lamakera Desa, Flores Timur sebagian besar memburu ikan paus biru. Orang Lamakera umumnya lebih modern daripada Lamalera, karena mayoritas masyarakat juga berburu spesies laut lain selain ikan paus.
WWF-Indonesia, bekerja di tiga kabupaten Alor Solor dengan 23 desa, terus meningkatkan dukungan dengan pemerintah dan masyarakat untuk tujuan mengurangi ancaman terhadap program-program konservasi.  Programnya adalah pembentukan KKLD di Lembata dan Flores Timur, membangun dan mempertahankan komitmen pemerintah daerah dalam pembentukan KKLD di dua kabupaten dan berbagi anggaran. Melakukan survei lebih lanjut tentang ekologi terumbu karang, ikan, mangrove, dan lamun, dan melakukan zonasi untuk kabupaten Alor yang telah dibentuk melalui SK Bupati.  Mengembangkan bisnis untuk kelompok masyarakat dengan memberikan bantuan modal untuk kredit mikro sistem di desa 23 juga merupakan salah satu program pendukung WWF-Indonesia. Saat ini, Pemerintah telah mengalokasikan Rp 300 juta untuk Lembata dalam membangun KKLD, dan sejak Maret 2009, perairan Alor sudah diresmikan sebagai KKLD yang meliputi 4083 Km2 atau 400.083 ha, dimana ada delapan desa dalam wilayah KKLD ini.

Tidak ada komentar
Isi Komentar
 isi 8 digit karakter di sebelah kiri
Pilih bahasa :    

Kumpulan Penelitian EAFM Indonesia

Silakan berpartisipasi dalam EAFM Indonesia dengan memasukkan data dan tulisan Anda.
Kirimkan ke: eafm.id@gmail.com

Panjang pertama kali matang gonad (Lm) beberapa jenis ikan

  • Banyar (2013) : 18,03 FL

  • Barakuda (2013) : F:66.0 FL/ M:60.0 FL

  • Baronang (2013) : 24 cm

  • Bawal Hitam (2013) : 22-24 cm

  • Bawal Putih (2013) : 18 cm

  • Belanak (2013) : 24-26 cm

  • Butana (2013) : 18.0 FL

  • Cakalang (2013) : 40-41.9 cm

  • Gerotgerot (2013) : 40.0 cm

  • Kakap Merah (2013) : 42.9 FL

  • Kakap Putih (2013) : 29-60 cm

  • Kambing kambing (2013) : 14.0 TL

  • Kembung (2013) : 16,89 FL

  • Kepiting Bakau (2013) : 9-10 up CL/301-400 gr

  • Kerang Dara (2013) : M : 2.720-2.950 cm/ F:2.230-3.050 cm

  • Kerapu (2013) : 39 cm

  • Kuniran (2013) : F:13.6-14.3/ M:14.4-15.1 cm

  • Kurau (2013) : F:28.5-29 cm/ M:22.5-24.3 cm

  • Kurisi (2013) : F:15-18 cm

  • Kuwe (2013) : 42.0 SL

  • Layang (2013) : 16,21 FL

  • Layang Deles (2013) : Jantan : 19,6-20,1
    Betina : 19,8-20,3

  • Layaran (2013) : 156-250 cm

  • Lemuru (2013) : 15.0 cm
    Betina: 9,9 (TL)

  • Lencam (2013) : 45.3 cm

  • Mahi-mahi (2013) : 65 cm

  • Mata Tujuh (2013) : M:3.51-4.0/ F:4.01-4.5 cm

  • Pari (2013) : M:59.9-69.1 /F:59.9-69.1 cm

  • Pari Manta (2013) : 380-460 cm

  • Peperek (2013) : 13.0 SL

  • Rajungan (2013) : 7-9 cm (CL)

  • Selar Bentong (2013) : 20,80 FL

  • Selar Kuning (2013) : J: 13,9-14,2
    B: 13,5-13,8 (TL)

  • Slanget (2013) : Jantan : 13,9-14,6
    Betina : 13,1-13,8 (TL)

  • Tembang (2013) : 11,95 FL

  • Tenggiri (2013) : 40-45 cm

  • Teri Jengki (2013) : 6 cm

  • Teripang (2013) : 16 cm,184 gr

  • Tongkol (2013) : 35 cm

  • Tongkol Komo (2013) : 40-65 cm

  • Tongkol Krai (2013) : 29-30 cm

  • Tuna Albakor (2013) : 107.5 cm

  • Tuna Mata Besar (2013) : Jantan : 140,5-151,9
    Betina : 133,5-137,9(FL)

  • Tuna Sirip Biru (2013) : 140 cm

  • Tuna Sirip Kuning (2013) : 137,50 (FL)

Estimasi Potensi Sumberdaya Ikan Keputusan Menteri KP No. 50/KEPMEN-KP/2017

O

F

M

Over Exploited Fully Exploited Moderate
Tabel SDI WPP-571
Jenis Ikan Status Stok
UDANG O
DEMERSAL F
- Kurau O
- Manyung O
- Kurisi F
- Kuniran F
- Swanggi F
- Bloso F
- Gumalah F
- Kakap merah O(3)
- Pelagis kecil F
- Banyar O
- Kembung O
- D.macarellus F
- D.macrosoma F
- D.ruselli F
- Golok-golok M
Tuna Besar
- Cakalang M
Tabel SDI WPP-572
Jenis Ikan Status Stok
UDANG O
DEMERSAL F
- Layur M
- Kurisi F
- Kuniran F
- Swanggi F
- Bloso F
- Gumalah F
- Kakap merah O(4)
- Kerapu O(4)
PELAGIS KECIL O
- Banyar O
- Kembung O
Tuna Besar
- Cakalang M
- Madidihag F
- Mata besar O
Tabel SDI WPP-573
Jenis Ikan Status Stok
UDANG O
DEMERSAL M
- Layur M
- Kakap merah F(5)
- Kuwe F(5)
PELAGIS KECIL F
- D.kuroides M
- Lemuru O(6)
Tuna Besar
- Cakalang M
- Albakora F
- Madidihang F
- Mata besar O
- Sbt O
- Cumi-cumi M
Tabel SDI WPP-711
Jenis Ikan Status Stok
UDANG O
DEMERSAL F
- Kurau O
- Manyung F
PELAGIS KECIL O
- Banyar F
- Kembung F
- D.macrosoma F
- D.ruselli F
- Cumi-cumi M
Tabel SDI WPP-712
Jenis Ikan Status Stok
UDANG O
DEMERSAL F
- Kurisi M(1)
- Kuniran F
- Swanggi M(1)
- Bloso F
- Kakap merah O
- Kerapu O
PELAGIS KECIL O
- Banyar O
- Kembung O
- D.macrosoma O
- D.resulli O
Tabel SDI WPP-713
Jenis Ikan Status Stok
UDANG O
DEMERSAL O
- Kakap merah M(2)
- Kerapu M(2)
PELAGIS KECIL O
- Ikan terbang O
Tuna Besar
- Cakalang M
- Madidihang O
- Mata besar F
Tabel SDI WPP-714
Jenis Ikan Status Stok
DEMERSAL F
PELAGIS KECIL F
- D. macarellus M-F
- D.macrosoma M-F
Tuna Besar
- Cakalang M
- Madidihang F
- Mata besar O
- Cumi-cumi M
Tabel SDI WPP-715
Jenis Ikan Status Stok
UDANG O
DEMERSAL M
- Kakap merah F
- Kerapu F
PELAGIS KECIL F
- Ikan terbang F
- D.kuroides F
- D.macarellius M
Tuna Besar
- Cakalang M
- Madidihang F
- Mata besar O
Tabel SDI WPP-716
Jenis Ikan Status Stok
DEMERSAL M
- Manyung M
- Kakap merah M
- Kerapu M
- Kuwe M
PELAGIS KECIL M
- D.kuroides M
- D.macarellus M
Tuna Besar
- Cakalang M
- Madidihang F
- Mata besar O
Tabel SDI WPP-717
Jenis Ikan Status Stok
UDANG O
DEMERSAL M
PELAGIS KECIL M
Tuna Besar
- Cakalang M
- Madidihag O
- Mata besar O
Tabel SDI WPP-718
Jenis Ikan Status Stok
UDANG F
DEMERSAL O(*)
- Mayung O
- Kurisi O
- Kuniran O
- Swanggi O
- Bloso O
- Gumalah O
- Kakap merah O
- Ikan lidah F
- Palagis kecil M

Pengunjung

Group Mailing List EAFM Indonesia

Komentar Pengunjung

  • alwi PPs STP jakarta pada Network Dalam Pengembangan EAFM di Indonesia

    sustainability dapat di realisasikan jika kesadaran sosial ekonomi dan lingkungan dapat sinergis dan berperan akan tetapi tantangan dari ketiga hal tersebut masih cukup sulit di aplikasikan

  • Pak Supardin pada Profil Perikanan Indonesia

    apakah profilnya bisa lebih dilengkapi lagi? tks

  • DANANJAYA pada Peluncuran website EAFM-Indonesia

    cukup menarik informasinya, mungkin perlu yang lebih ilmiah pemaparannya dan melalui suatu kajian agar mendekati kebenarannya.

  • Imran AMin pada Network Dalam Pengembangan EAFM di Indonesia

    EAFM hanya bisa diimplementasikan jika pemerintah sudah bisa mengubah paradigma penentuan potensi lestari sumberdaya perikanan kita. Mengubah dari pendekatan nasional based ke satuan pengelolaan perikanan terkecil. potensi lestari per WPP pun masih sangat bias nantinya, karena kelembagaan pengelolaan WPP itu sendiri masih berfragmentasi antara pusat propinsi dan kabupaten. Dalam menentukan potensi lestari tersebut pun tidak lagi menggunakan pendekatan linier dan single species, tapi mulai memperhatikan factor-factor yang mempengaruhi keberadaan kelimpahan ikan. misalnya nilai potensi lestri kawasan Teluk Jakarta, atau kawasan-kawasan lain yang indikator ekosistemnya bias terukur. Tidak seperti saat ini, yang jadi acuan kita hanya potemsi letari nasional... Kalau paradigma dasar ini sudah dirubah, maka penerapan EAFM akan menjadi sangat mudah... tinggal menentukan effort maksimal yang diperbolehkan berdasarkan informasi perluasan specific di atas.

  • Agussalim pada UNPATTI Ambon
    EAFM sangat aplikabel dan sesuai tuntutan kondisi untuk perikanan berkelanjutan. Tim EAFM Indonesia patut dapat apresiasi. secara pribadi saya mengucapkan terimakasih kepada Bpk James Abrahamsz (koordinator EAFM Wilayah Maluku/ Dosen Pascasarjana Unpatti Ambon) atas kesediaannya menjadi pembimbing penelitian saya tentang EAFM. dan terimakasih kepada Kanda Muhammad Yusuf (WWF-Indonesia) atas support dan inspirasinya untuk fokus penelitian kepada EAFM. Terimakasih pula kepada Bapk Prof. Samsu Alam (Unhas) atas laporan tentang EAFM Ikan terbang (ternayata EAFM aplikatif pula untuk spesies tertentu). EAFM seharusnya menjadi roadmap pengelolaan perikanan, dan segenap praktisi, akademisi dan pengambil kebijakan perikanan harus menguasai ini.
6 orang
52 orang
157 orang
2455 orang
Kunjungi kami juga di: